Antara nyata dan tidak, antara mau dan tidak mau tapi itu semua adalah sebuah titik bahwa kita harus sadar bahwa kita adalah sebaik-baiknya umat ketika kita mampu menampakan sisi keislaman yang sebenarnya tanpa ada dikotomi antara tauhid dan aspek dunia.” Telukjambe, September’08 Esok adalah sebuah kumpulan cerita yang abstrak dan tak bisa diprediksi, namun seorang manusia yang wajar adalah seseorang selalu mempersiapkan segalanya atau selengkapnya dengan baik untuk songsong masa depan. Allah Swt. Berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr ayat 18 :
Kato Pusako 18 : Sagalo Ampek (Nan Ampek)
Ditulis oleh A.B . Dt. Madjo Indo,
Selasa, 30 Juni 2009
Indak tahu di ampek Kok tak tahu di ampek Alang sariknyo mamarentah
Adaik limbago nan salapan Nan ampek tabang ka langik Aso bulan Duo matohari Tigo bintang Ampek timue (fajar)
Proposal KKN Dan Baksos KMM
Ditulis oleh Afif Waldy,
Kamis, 11 Juni 2009
Proyek Proposal
Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan
Bakti Sosial (Baksos) ke-VII
Keluarga Mahasiswa Minangkabau Jakarta Raya (KMM JAYA)
Koordinator Komisariat (Koorkom) Ciputat
Latar Belakang
Sumatera Barat yang identik dengan masyarakat Minangkabau merupakan suatu komunitas yang utuh, masyarakat Minangkabau memiliki keterpaduan antara agama dan adat yang selalu berjalan seimbang, serasi, dan selaras dalam berbagai hal. Perjalanan adat yang selalu dipayungi oleh nilai-nilai agama, dan sebaliknya kehidupan agama masyarakat yang akhirnya menjadi kesepakatan adat melalui proses musyawarah dan mufakat yang bergitu alot. Pada akhirnya, dua unsur ini menjadi sebuah kesatuan yang utuh yang menggambarkan kekuatan tersendiri yang dimiliki masyarakat Minangkabau.
Artikel Minang
Ditulis oleh H. Masod Abidin,
Senin, 29 Juni 2009
Mata Rantai Gerakan Pembaruan Pemikiran dan Pengalaman Islam di Minangkabau
Pada awal abad ke-20, di Sumatera Barat ditandai dengan periode yang penuh pergolakan sosial dan intelektual. Di awali dengan pulangnya tiga ulama Minangkabau selepas menuntut ilmu di Mekah, yaitu Inyik Djambek, Inyik Rasul dan Inyik Abdullah Ahmad membawa modernisasi Islam ajaran Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dari Mesir. Gerakan ini tidak hanya dimotivasi oleh gerakan pembaharuan yang sudah berkembang di Mesir tapi juga oleh dorongan rivalitas terhadap golongan berpendidikan Barat yang cara material dan sosial terlihat lebih bergengsi.