Kamis, September 09, 2010
   
Text Size

Cari Artikel

Brilliant Budiman
denny
hasnadi
dragon liongman
Ardi Salman St Pangeran
chairul anka
ajonee
amra
Wirma Andri
karaphay
Puput Baruah
Roza Umar
yoserizal
yoserizal

Urgensi Aqidah Islam dalam Mendidik Anak

Image”Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…..” ( at- Tahriim :6 ) Karena begitu besar tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak –anaknya , Rasulullah menegaskan pula tanggung jawab pendidikan terhadap anak , beliau bersabda ”Didiklah anak- anak mu dan perbaguslah adab mereka “ ( H.R Ibnu Maajah )

Ayat dan hadis diatas betul betul mengingatkan kepada kita bahwa tanggung jawab utama terhadap pendidikan anak terletak apada kedua orang tuanya . Dengan karena itu , jangan sampai ada kita para orang tua merasa sudah lepas atau selesai tanggung jawabnya dalam mendidik putra-putrinya hanya karena putra putrinya itu disekolahkan di sekolah Islam dan dilengkapi guru ngajinya . Ketahuilah tanggung jawab yang paling utama terhadap pendidikan putra-putri kita adalah pada orang tuanya. Guru ngaji dan sekolah atau madrasah Islam sifatnya hanya lah membantu para orang tua.


Anak-anak adalah amanah titipan Allah yang wajib kita jaga. Anak anak adalah jantung hati kita yang berjalan-jalan di atas tanah. Karenanya, pengasuh terus menerus berdo’a agar anak anak itu benar benar dapat menjadi waladun shaalihun yad’uu untuk ke dua orang tuanya. Terkait dengan hadis tersebut kami mencoba mengawali dengan pertanyaan mengapa orang berkeluarga. Mengapa orang berketurunan. Mengapa orang ingin anak. Tak perlu rasanya dijawab .Selanjutnya mari coba direnungi hadits yang sangat biasa kita dengar, yaitu:
”Setiap anak dilahirkan atas fitrah, maka kedua ibu bapanyalah yang menjadikannya Majusi, Yahudi atau Nasrani.”


Ya. Kita pilih mana. Tentunya semua kita akan tidak memilih kecuali Islam, tentunya benar tak. Tapi Islam tidak dinyatakan di situ. Yang dimaksudkan dalam hadis ini ialah anak-anak kita dilahirkan bersih fitrahnya, tanggung jawab ibu-bapak lah yang akan memberikan warna dan coraknya. Kita amat yakin bahwa kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita untuk menjadikan anak-anak yang diamanahkan Allah kepada kita itu. Dapat menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, mempunyai akhlak yang mulia, rajin berjihad, cerdik, pintar, dan sukses hidup di dunia akhirat.


Ya, semua kita berkeinginan begitu, tapi apa lacurnya, kadang-kadang kita merasa, kita sudah berbuat yang terbaik untuk mendidik anak. Kita sudah coba melalui pendekatan Islam rasanya, tapi entah mengapa begitu juga jadinya. Timbul persoalan baru, apakah betul kita benar-benar telah melaksanakan pendidikan Islam. Kita sungguh yakin bahwa semua persoalan Islam adalah jalan penyelesaian yang terbaik. Jadi kalau kita lihat bocah bocah kita masih juga belum seperti yang kita harapkan. Bukanlah mereka yang salah. Bukan pula Islam yang keliru. Tapi ada sesuatu -mungkin- yang belum diraih dalam pembelajaran pentarbiyahan putra putri kita. Mungkin sekali. Tapi itu sungguh kita harapkan dijawab oleh para murabbiin (pendidik)

Di dalam buku ”Pendidikan Anak-anak Dalam Islam”, Abdullah Nasih Ulwan, menerangkan kepada kita bahawa pendidikan yang paling utama yang perlu ibu bapa berikan kepada anak-anak ialah pendidikan keimanan kepada Allah.

Apa yang Dimaksud Pendidikan Keimanan


Maksudnya ialah sejak dini kita memperkenalkan kepada anak dasar dan pokok-pokok keimanan, membiasakan mereka berdekatan dengan rukun Islam serta mengajarkan kepadanya prinsip-prinsip syariat. Dasar-dasar keimanan adalah semua yang berkaitan dengan perkara-perkara qhaib seperti beriman kepada Allah, Rasul, Malaikat, Alquran, hari kiamat dan Qadha’ dan Qadar Allah, termasuk juga siksa dalam kubur, kebangkitan, hisab, surga, neraka dan semua perkara yang ghaib yang mesti diimani.


Sementara yang dimaksudkan dengan rukun-rukun Islam ialah mengajar anak-anak salat, puasa, zakat dan haji. Adapunyang dimaksudkan dengan prinsip syariat ialah menerangkan kepada anak-anak akan hal-hal yang berkaitan hal-hal aqidah, akhlak, pensyariatan, peraturan-peraturan dan hukum-hukum. Sebenarnya asemua yang disebut Ulwaani itu telah diwasiatkan oleh Rasulullah SAW kepada kita supaya kita melaksanakannya di dalam mendidik putra putri kita . Di antara wasiat-wasiat Rasulullah saw yang terpenting ialah dalam sabda yang maksudnya:


”Bekerjalah dengan taat kepada Allah, dan jauhilah maksiat-maksiat terhadap Allah, dan suruh anak-anak kamu supaya menurut perintah dan menjauhi larangan, maka itulah pemeliharaan diri kamu dan diri mereka daripada api neraka.”
“Suruhlah anak-anak melakukan salat pada usia tujuh tahun, dan pukullah dia kerana meninggalkannya pada usia sepuluh tahaun, dan pisahkan antara mereka di tempat tidur.” ”Ajarkanlah kepada anak-anakmu tiga perkara: Mencintai Nabi , dan mencintai keluarganya serta membaca alquran. Sebab para pembaca alquran berada di sisi Arasy Allah bersama-sama para anbiya’Nya dan ashfiya’Nya pada hari tiada naungan melainkan naungan Allah saja.” Sementara itu para ulama pendidikan pun telah banyak berucap mengenai hal ini, antara lain mengenai wajib mengajarkan anak membaca dan menghafal Alquran.


1. Berkata Saad bin Abu Waqqas ra: Kami pernah mengajar anak-anak kami sejarah perjuangan Rasulullah saw sebagaimana kami pernah mengajar mereka membaca Alquran.

2. Ibnu Khaldun mengingatkan pentingnya pengajaran Alquran dan penghafalannya dengan berkata: ”Sesungguhnya pengajaran Alquran itu adalah asas semua pengajaran pada segala dasar-dasar pendidikan di manpun, karena ia adalah syiar agama yang akan membawa kepada ketetapan aqidah dan kemantapan iman.


3. Ibnu Sina menasihatkan agar memulaikan pengajaran dan pendidikan anak-anak dengan Alquran apabila anak-anak telah mulai siap untuk belajar.


4. Imam Ghazali berwasiat supaya kita memperhatikan benar-benar pendidikan anak-anak dengan mengajar Alquran, Hadis dan hukum-hukum agama.


Sebenarnya orang-orang saleh terdahulu dan kewajiban kita saat ini ialah , apabila menyerahkan putra putri kepada pendidik, Pertama-tama yang diingatkan dan ditekankan ialah supaya dimulai pengajaran dengan membaaca dan menghafal Alquran, agar lidah mereka fasih membacanya, jiwa mereka terharu dengannya, hati mereka khusuk kepadanya, air mata mereka berlinangan ketika membacanya dan dalam diri mereka tertanam semangat keimanan dan keyakinan.

Benar sekali, anak anak kita dilahirkan bersih fitrahnya, bergantunglah kepada ibu bapanya. Seandainya anak-anak dibesarkan di dalam rumah yang bercahaya dengan suasana keislaman, maka ke arah itulah anak diarahkan tapi sekiranya anak-anak dibesarkan di rumah yang gelap dari suasana keislaman dan penuh dengan kerusakan akhlak dan melaksanakan prinsip-prinsip kufur, maka ke arah fitrahnya terarah dan tabi’at itu yang akan terbentuk pada dirinya.


Kedua Disamping itu kita juga perlu sadar bahwa kita hidup dalam masyarakat. Kita tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh masyarakat yang di zaman modern ini sudah supermulti keragaman. Masyarakat sungguh memberi saham besar dalam pendidikan anak. Oleh itu kita haruslah waspada dan teliti dalam memilih teman anak anak kita. Karenanya Abdullah Nasih Ulwan berpesan lagi, ibu-bapak harus hati hati betul dalam dalam masalah ini. Agar anak anak jangan tertumbuh di dalam hatinya perasaan benci terhadap Islam, dan permusuhan terhadap agamanya sendiri.


Ketiga Jangan menyematkan pada dirinya prinsip-prinsip kufur dan sesat dalam jiwanya. Akhirnya anak akan besar dalam pendidikan ilhad dan petunjuk yang sangat membahayakan serta akan jauh dari pengajaran agama Islam. Jangan membiarkan anak membaca apa saja dari buku-buku orang mulhid dan materialis, atau membiarkan saja anaknya membaca bahan yang menikam agamanya sendiri. Akibatnya anaknya akan berada dalam keraguan terhadap aqidah dan agamanya dan kelak akan menjadi musuh yang menentang Islam.


Jangan membiarkan anaknya berbuat sesuka hati dan membiarkan dia bercampur gaul kesalahan. Akibatnya anak itu akan mencaci segala nilai-nilai agama dan akhlak yang diajar oleh Islam.


Keempat wajib orang tua mengontrol putra putrinya dalam pergaulan, misalnya tentang siapa temannya , karena teman itu sangat bersar pengaruh bagi anak anak. Jangan membuka peluang bagi anak untuk memilih kumpulan-kumpulan yang sesat dan kufur atau menjadi anggota klub-klub yang tiada hubungan dengan Islam dari segi aqidah, pemikiran, dan sejarah. Akibatnya anak-anak akan terdidik dengan kepercayaan-kepercayaan yang sesat dan kufur, malah akhirnya akan menjadi musuh yang dahsyat terhadap Islam sendiri. Disamping itu juga yang sabgat diperlukan adalah nasihat , pendekatan kasih sayang sangat diperlukan sebagaimana yang pernah oleh lukanul hakim , seorang ahli hikmah kepada anak anaknya dengan nasihat nasihat yang sangat indah dan penuh makna seperti tertuang didalam surah luqman ayat 12- 19 yang tentu semua kita telah mebaca dan memahaminya.

Kelima adalah mendidik anak anak agar dapat menjadi anak yang saleh sebagaimana salah satu upaya terhadap anak untuk melaksanakan salat lima waktu kepada sang anak , Rasulullah bersabda ; ”Suruh lah anak – anak mu shalat bila berumur tujuh tahun dan gunakan pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur meraka.” ( H.R Abu Dawud)


Itu berarti mendidik harus ada kedisiplinan untuk agar anak menjadi mengerti dan sadar mana yang wajib dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan. Kata pukul diatas bisa kita maksudkan sebagai sanksi , tidak mesti dipahami sebagai pukul secara pisik, bisa saja sebagai pukul dalam bentuk sanksi sanksi. dan hanya orang tua masing masing anak tersebut yang lebih mengerti apa yang perlu diberlakukan kepada anak anaknya.

Kewajiban atas setiap ibu bapa melaksanakan tanggung jawab yang besar ini untuk menentukan anak-anak agar meyakini aqidah keimanan dan mengenal segala prinsip Islam. Justru itu ibu-bapak terlebih dahulu perlu memahami perkara ini dan mengenal batas-batas tanggung jawabnya serta cara-cara melaksanakan pendidikan yang betul agar tercapai pendidikan itu dengan sempurna dan mengikut sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT.


Jadi dengan demikian , semua kita pembaca bisa sadari kalau mendidik anak agar sang anak menjadi anak yang saleh tentunya sebagai sesuatu yang sulit dan berat, tetapi tidak berarti tidak bisa. Makanya kita perlukan kesungguhan dari setiap orang tua dalam hal mendidik putra putrinya dengan tampa kesungguhan kecil kemungkinan hal ini bisa kita capai keberhasilannya.


Akhirnya , semoga kita termasuk kelompok manusia yang menjalankan kehidupan sebagaimana yang dikehendaki Allah , sehingga kita mampu mempertanggung jawabkan segala yang kita lakukan itu dihadapannya.”Ya Allah, berilah kami petunjuk dan kuatkanlah keimanan kami dalam melaksanakan tanggungjawab yang telah diamanahkan ini. Amin”.


*Penulis adalah Direktur LP3SK Kota Batam

Sumber : http://.padang-today.com

Profil Saya

Login Form