Kamis, September 09, 2010
   
Text Size

Cari Artikel

Yonaldi
fitrial huri
alhidayat syah
paremansantiang
B.Katik Sulaiman
Rajo Nan Putiah
Afrizal Ak. Batuah
St.Rajo Ameh
mulyadi
Adi Linggo
Darmanto
Nel  R.
ilham
syahbandi

Membangun Karakter Bangsa dengan Mental yang Sehat.

ImageSaya dan ibu Meutia Hatta sedang berbincang sambil makan malam disebuah Restoran, ketika serombongan perempuan dan lelaki memasuki Restoran tempat kami duduk. Mereka mengambil tempat berseberangan dengan kami. Agak berjarak, namun percakapan mereka jelas terdengar ke tempat kami.  Rombongan yang masuk terdiri dari perempuan-perempuan muda dan beberapa lelaki yang nampak berwibawa.

Silelaki dengan suara tertata bicara :”jadi berangkatlah kalian dengan restu dari kami. Bekerjalah dengan baik, jaga diri kalian, hati-hati di negeri orang, dan yang paling penting adalah jangan lupa berberita dengan suami, karena bagaimanapun suami adalah kepala rumah tangga yang harus kalian patuhi. Hanya karena izinnyalah maka kalian bisa pergi bekerja ke Malaysia”. Perempuan yang diberi wejangan tersebut nampak manggut-manggut mengerti.

Saya tersenyum dan melirik ke arah ibu Meutia. Kening ibu Meutia mengernyit, menggeleng lalu bicara “ begini nich cara laki-laki yang tidak saya sukai. Menghendaki perempuan bekerja keras untuk menafkahi keluarga, tetapi tetap menempatkannya sebagai mahkluk subordinate yang harus patuh kepada suami karena lelaki itu suami, yang karena izin suami pula perempuan bisa bekerja ke Malaysia”. Anggapan seperti ini sudah menginternal dalam diri para lelaki dan perempuan.

Selayaknya, kepergian istri(ataupun suami) atas izin dan persetujuan pasangannya demi kebaikan dan keharmonisan hubungan. Namun kemampuan dan kemauan untuk pergi terletak pada diri yang bersangkutan, bukan pada izin. Ini logikanya, karena meski punya izin suami, tanpa kemauan dan kemampuan istri, semua takkan terjadi. Artinya lebih jauh, yang dilakukan seorang perempuan tidak bisa dilihat hanya karena adanya toleransi suami, atau kesempatan yang diberikan lelaki. Tetapi kemampuan dan potensi perempuan harus menjadi acuan juga.

Menarik mendiskusikan cara pandang para suami yang melepas istrinya bekerja sebagai tenaga kerja wanita ke Malaysia tersebut. Cerita tentang para tenaga kerja wanita yang menjadi tragedi juga banyak terjadi. Beberapa istri yang bekerja di Malaysia atau Negara lainnya, menemukan kenyataan bahwa tempat mereka bekerja bukan saja tidak begitu aman bagi mereka, namun beberapa suami yang dikirimi uang secara rutin oleh istrinya ternyata malah kawin dengan perempuan lain menghabiskan pendapatan istri yang diperoleh dengan susah payah dan penuh tantangan tersebut. Tragedi seperti ini terjadi di beberapa daerah di negeri ini. Inilah perbincangan kami bertahun-tahun lalu, sebelum Meutia Hatta menjadi Menteri.

Nampaknya Prof.DR.Meutia Farida Hatta menangkap adanya “Character building” yang salah dikarenakan adanya konstruksi sosial budaya yang menyempitkan dan meminggirkan peranan dan keberadaan perempuan di arena publik.. Keikut sertaan perempuan di arena publik menimbulkan perdebatan, tanpa melihat keuntungan yang dihasilkan dengan kehadiran perempuan di arena ini. Penolakan sering dengan membawa agama untuk melegalkannya. Konflik ini kemudian berpotensi kearah kekerasan dalam rumah tangga.


Ideologi yang bermuatan budaya patriarki dan bias gender, telah membangun karakter manusianya. Secara sadar atau tidak, kaum lelaki selalu menganggap dirinya lebih pintar, lebih hebat, lebih kuat, lebih rasional dan lebih bertanggung jawab daripada perempuan.Hal ini diakui pula oleh sebagian kaum perempuan. Anggapan dan pengakuan ini secara perlahan tetapi pasti membentuk karakter manusia laki-laki dan perempuan. Pengakuan individual berkembang menjadi pengakuan kolektif, melebar menjadi kepercayaan yang semakin menginternal dengan pengukuhan dalam berbagai aturan yang dikeluarkan para penguasa. Karena kekuasaan masih dipegang mayoritas oleh mereka yang belum sensitif gender, maka aturan-aturan yang bias genderpun banyak bertaburan.


Ketika perempuan menyadari potensi dirinya, sistem berpikir berubah dan karakter mereka pun ikut berubah. Mereka meruntuhkan citra yang selama ini melekat. Perempuan memperlihatkan kecerdasan, kekuatan, kerasionalan dan kemandiriannya. Perempuan pun berusaha melibatkan diri dalam pembangunan bangsa. Masalahnya, ternyata kaum lelaki (dan sebagian kaum perempuan) tidak siap menghadapi perempuan-perempuan mandiri. Sebagian perempuan mulai membangun karakter baru dan ikut membangun karakter bangsa. Sementara sebagian lelaki dan sebagian lain perempuan, masih mempertahankan karakter tradisi yang dibangun budaya patriarki. Akibatnya perempuan yang berpotensi, tidak juga diberdayakan. Masih ada juga yang meyakini bahwa kepemimpinan lelaki lebih baik daripada kepemimpinan perempuan, tanpa melihat kemampuan manusianya Ini juga yang dirisaukan oleh Meutia Hatta.


“ Kemampuan memimpin jangan dilihat dari jenis kelamin. Saya tidak mempermasalahkan apakah presiden itu lelaki atau perempuan. Tetapi memberi kesempatan kepada perempuan yang sama seperti kepada lelaki akan menunjukkan kemampuan itu. Jadi bukan kepada jenis kelaminnya”, ini dikatakan Meutia saat terjadi polemik tentang boleh tidaknya perempuan sebagai pemimpin, dan sebelum beliau menjadi Menteri. Sebagai seorang akademisi, Meutia menyadari beratnya perjuangan membuka hati lelaki dan perempuan tentang pentingnya membangun karakter positif (Character building) dalam membangun bangsa (Nation Building).

Meutia juga bicara tentang kesehatan mental (Mental health) Sebagai seorang perempuan, ia tidak segan melihat kepada sisi kelam dalam diri perempuan. Baginya kesetaraan itu adalah adanya perlakuan adil bagi perempuan dan laki-laki. Karena bila menghendaki demokrasi berjalan, hal itu bisa dicapai dengan keadilan dan keterbukaan. Menurut Meutia, agak aneh bila seorang perempuan menikah dengan suami orang lain dengan alasan “jatuh cinta’, atau pula seorang laki-laki berstatus suami menginginkan perempuan lain, atau pula lelaki yang menghendaki perempuan yang masih berstatus istri orang lain.


Pandangan yang meletakkan kesalahan kepada perempuan saja karena adanya perselingkuhan, adalah salah. Namun perubahan pandangan yang menganggap ini kesalahan lelaki saja juga salah. Menurut Meutia, ada yang salah dengan kesehatan mental orang-orang tersebut. Secara sederhana diibaratkannya, seandainya anda menginginkan sesuatu yang bukan milik anda(Meutia saat itu mengibaratkan dengan boneka-pen) dan tak mungkin anda miliki karena sudah ada pemilik yang sah, masihkah anda berniat mengambilnya?. Bila keinginan itu masih ada di hati, maka ada yang salah dengan kesehatan mental anda. Karena meski Cinta atau pula dalam kondisi miskin, tidak ada yang membolehkan manusia melakukan segala cara mendapatkan keinginannya. Perselingkuhan atau kemiskinan berpotensi menciptakan kekerasan terhadap kaum lemah. Harus ada yang melindungi kaum ini dari tindak kekerasan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan.


Karakter manusia yang terbangun oleh adanya mitos-mitos tentang peran, posisi dan eksistensi laki-laki dan perempuan yang tidak adil di masyarakat berpotensi menciptakan kekerasan dan penindasan terhadap kaum yang tidak berdaya. Maka dalam posisinya sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan kini, Meutia banyak melakukan kegiatan dan kebijaksanaan yang berpihak kepada kaum lemah. Salah satunya adalah disyahkannya Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT) yang telah disosialisasikan lewat media, seminar dan berbagai aktifitas lainnya. Dengan keluarnya Undang-Undang ini diharapkan masyarakat menyadari bahwa melakukan kekerasan terhadap orang lain (istri, anak, suami dan pembantu atau penghuni rumah lain yang dalam posisi lemah) akan mendapatkan hukuman berat. Jadi lelaki tidak boleh seenaknya melakukan tindak kekerasan baik fisik ataupun secara psikis terhadap anak, istri ataupun pembantu rumah tangganya dengan dalih apapun. Namun lelaki pun tidak boleh dijadikan objek kekerasan itu sendiri.

Dengan langkah ini tentu diharapkan akan ada perubahan karakter manusia Indonesia yang tidak lagi memuja kekerasan dan membenarkan “penjajahan” terhadap kelompok lemah. Meutia yang sejak dulu sangat perhatian dan prihatin terhadap kelompok yang terpinggirkan, mencoba dengan posisinya kini memberdayakan kaum yang selama ini termarginalkan. Mengubah pola pikir, mengubah cara pandang dan mengubah karakter negatif dalam budaya yang masih kental dengan aroma patriarki dan diskriminasi untuk membangun bangsa yang beradab adalah suatu pekerjaan yang berat, namun bukan tidak mungkin.

*) penulis adalah Akademisi dan Pengamat Budaya & Perempuan

 

Sumber : http://www.padangmedia.com

Profil Saya

Login Form