Jangan Duduk Bersama Mereka
Assalamu'alaikum Warahmatullaahi WabarakatuhSemoga Netters Syiar al-Sofwa senantiasa dalam lindungan Allah Ta'ala
Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh
Semoga Netters Syiar al-Sofwa senantiasa dalam lindungan Allah Ta'ala
Hindari Bermajlis Istihza`!
Selasa, 20 Mei 08, klik di sini:
http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatannur&id=482
Virus mengerikan telah menjalar ke seluruh tubuh ummat islam, ada
kalanya hal tersebut mampu mendatangkan kebaikan dan yang pasti adalah akan
membawa dampak buruk yang sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Virus
tersebut menyebar melalui salah satu makhluk yang sangat kecil, yakni
lidah yang tak bertulang. Melalui makhluk kecil mungil ini seseorang akan
menjadi tinggi dan mulia derajatnya atau menjadi hina dan rendah
serendah-rendahnya. Dengan sebab itu pulalah seseorang akan menjadi celaka
atau selamat, ahli hikmah menyebutkan : "keselamatan seorang insan adalah
tergantung bagaimana ia menjaga lisannya".
Di sebagian tempat-tempat berkumpul, majlis-majlis
ta`lim,halaqoh-halaqoh ataupun di warung-warung kopi terkadang mudah sekali mereka
mempergunakan lisan untuk hal-hal yang sangat buruk dan sesuatu yang
diharamkan. Bahkan sampai-sampai kepada ucapan-ucapan yang mengakibatkan
pelakunya terjerumus dalam kekufuran seperti ghibah, berdusta, memfitnah,
menafsirkan ayat-ayat Allah subhanahu wata'aala ataupun hadits-hadits nabi
shallallahu 'alahi wasallam dengan tanpa didasari oleh ilmu yang benar
dan tidak hanya itu, saja sampai-sampai kepada "istihzaa`" atau
menghina, mencela dan merendahkan Allah subhanahu wata'aala, ayat-ayat-Nya dan
Rasul-Nya tidak lain itu semua berangkat dari niat yang jahat, hati
yang sakit dan lemahnya agama yang dimiliki. Allah subhanahu wata'aala
berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum
mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan)
lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula
wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi
wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang
mengolok-olokkan)." (QS. al-Hujurat : 11). Makna 'as-Sukhriyyah' dalam ayat
tersebut adalah menghina, merendahkan dan memberitahukan aib dan
kekurangan-kekurangannya, terkadang dengan meniru atau mempraktekan melalui
perbuatan dan ucapan, terkadang dengan isyarat atau gaya yang betujuan
menghinanya.
Dan diantara bentuk 'istihzaa' atau penghinaan yang paling dahsyat dan
sangat berbahaya adalah: menghina agama dan pelakunya. Hal tersebut
merupakan perkara yang sangat berbahaya, sehingga para Ulama telah
bersepakat bahwa "istihzaa` (menghina) Allah subhanahu wata'aala, agama-Nya
dan Rasul-Nya merupakan sebuah kekufuran yang nyata dan yang menyebabkan
pelakunya keluar dari islam secara menyeluruh". Syaikhul Islam Ibn
Taimiyah berkata: "Sesungguhnya menghina Allah subhanahu wata'aala,
ayat-ayat, dan rasul-Nya adalah kekufuran yang pelakunya menjadi kafir setelah
ia beriman".
Ironinya penyakit 'istihzaa` dan sukhriyyah' ini telah menjadi 'seni'
bagi mereka, sehingga kita dapati berbagai macam bentuk istihza`yang
mereka lakukan. Diantara mereka ada yang menghina jilbab/hijab (dengan
mengatakan ini adalah adat istiadat Arab kuno/tempo dulu).Juga ada yang
mencela bahwa pelaksanaan hukum syar`i (sudah tidak relevan lagi). Dan
bagi mereka yang menyerukan amar ma`ruf dan nahi mungkar tidak lepas dari
hinaan dan celaan dari 'lisan ganas' mereka. Celaan juga mereka
lakukan terhadap sunnah-sunnah rasulullah shallallahu 'alahi wasallam seperti
jenggot yang dipanjangkan, celana yang dipendekkan ataupun yang
lainnya.
Dalam hal ini "al-Lajnah ad-Da`imah" berfatwa menjawab pertanyaan
seputar orang yang berkata kepada saudaranya: "Wahai Jenggot" dengan maksud
menghina, maka dijawab: "Sesungguhnya istihzaa` (mengina) jenggot
merupakan sebuah kemungkaran yang besar. Ucapan 'wahai jenggot' dengan
maksud merendahkan dan menghina adalah kufur, dan apabila hanya bermaksud
sebagai pengenal maka bukanlah kekufuran. Hanya saja panggilan seperti
itu tidaklah sepatutnya untuk dilakukan.
Ketahuilah bahwa istihzaa` adalah sesuatu yang sangat membahayakan bagi
agama seseorang, firman Allah subhanahu wata'aala : "Dan jika kamu
tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah
mereka akan menjawab: 'Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan
bermain-main saja'. Katakanlah: 'apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan
Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?'. Tidak usah kamu minta maaf karena kamu
kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada (kamu
lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain)
disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa." (QS.
at-Taubah : 65-66).
Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafiq yang berkata
(tentang Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam dan para sahabatnya), ia
berkata: "tidaklah kami melihat para Qurra` (ahli membaca al-qur`an) kita,
kecuali mereka adalah orang-orang yang buncit perutnya, pendusta, dan
pengecut". Kemudian hal itu di sampaikan kepada Rasulullah shallallahu
'alahi wasallam, lalu orang munafik tersebut datang kepada rasulullah
shallallahu 'alahi wasallam, ketika itu beliau telah menaiki untanya lalu
melanjutkan perjalanan. Sambil berlari-lari orang tersebut
memanggil-manggil Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam dan berkata, "Wahai
Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam sesungguhnya kami hanya bermain-main
dan bersenda gurau, lalu rasulullah shallallahu 'alahi wasallam
bersabda, (dengan membaca ayat) yang artinya: "Apakah dengan Allah ,
ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta
maaf, karena kamu kafir sesudah beriman..." (QS. at-Taubah: 65-66).
Sampai-sampai kedua kaki orang tersebut tersandung-sandung batu dan tidak
sedikitpun Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam menghiraukannya sedangkan
orang itu bergelanyutan di tali pelana unta rasulullah shallallahu
'alahi wasallam.
Sudah sangat maklum dalam sirah Rasul bahwa beliau adalah orang yang
paling sayang kepada umatnya. Sangat mudah menerima udzur (alasan)
apabila mereka salah dan minta dimaafkan. Kendatipun demikian, beliau tidak
menerima permintaan maaf dari orang-orang yang menghina Allah subhanahu
wata'aala, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya, demikianlah... alangkah
besarnya dosa istihzaa` tersebut sampai-sampai Allah subhanahu wata'aala
berfirman: "Kamu telah kafir sesudah beriman". Naudzubillah mindzalik.
Ibnul-Jauzi berkata dalam 'Zaadul- Masiir': "Hal ini menunjukkan bahwa
'sungguh-sungguh dan bermain-main' dalam menampakkan kata-kata
kekufuran adalah sama."
Dan Syaikh as-Sa`di berkata: "Sesungguhnya menghina Allah subhanahu
wata'aala dan rasul-Nya adalah sebuah kekufuran yang dapat mengeluarkan
pelakunya dari agama islam (menjadi kafir) karena dasar pokok agama ini
dibangun diatas pengagungan kepada Allah subhanahu wata'aala, agama
Islam dan Rasul-Nya. Dan istihzaa` terhadap hal tersebut berarti ia telah
meghapus dan membatalkan dasar pokok agama tersebut".
Demikian pula Syaikh Muhammad Bin Ibrahim berkata: "Sebagian orang ada
yang kerjaannya mencari-cari kesalahan para Ahli Ilmu apakah ia pernah
bertemu ataupun belum pernah bertemu mereka, seperti ucapannya: "si
fulan itu begini dan begitu (kelompok dakwah itu begini dan begitu)".
Hal-hal seperti ini dikhawatirkan pelakunya akan menjadi murtad. Dan
tidaklah ia mencela mereka kecuali karena mereka adalah orang-orang yang
taat".
Allah subhanahu wata'aala berfirman yang artinya, " Kehidupan dunia
dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang
hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu
lebih mulia dari pada mereka dihari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada
orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. al-Baqarah: 212).
Dan sebagian dari mereka ada yang memungkiri ketika dikatakan
kepadanya: "ucapanmu adalah termasuk istihzaa` (menghina) agama", lalu ia
mengatakan, "kami tidaklah bermaksud menghina agama, tidak pula kepada
pribadi seseorang, akan tetapi kami hanyalah bercanda dan bergurau". Dan dia
tidak faham akibat dari gurauan dan candaan semacam itu. Sungguh hal
itu adalah sebuah kehinaan, dan kebinasaan di dunia, bencana dan adzab
yang pedih di akhirat. Allah subhanahu wata'aala berfirman, artinya,
"Tinggallah dengan hina didalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan
Aku. Sesunguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia) ya
Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami
rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik. Lalu kamu
menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka,
menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan
mereka, sesungguhnya Aku membei balasan kepada mereka di hari ini,
karena kesabaran mereka; sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang
menang."(QS. al-Mukminun: 108-111).
Ejekan dan hinaan kepada orang biasa (orang pada umumnya) adalah sebuah
perbuatan yang menyakitkan dan permusuhan. Lebih-lebih jika hal itu di
tujukan kepada orang-orang yang beriman, kepada orang-orang yang
'iltizam' (selalu menghidupkan sunnah-sunnah Rasul). Dalam hal ini Allah
subhanahu wata'aala berfirman: "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang
mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka
sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS.
al-Ahzab: 58).
Saudaraku berhati-hatilah, jauhilah oleh kalian duduk-duduk di
tempat-tempat yang didalamnya terdapat maksiat kepada Allah subhanahu
wata'aala, janganlah bergabung bersama mereka. Janganlah dekat-dekat dengan
mereka. Maksiat adalah bak penyakit kronis, virus yang ganas yang mudah
sekali menular. Lebih-lebih jika engkau tidak memiliki kekebalan tubuh
untuk menghalau dan membentenginya yaitu iman dan ilmu yang kokoh. Allah
subhanahu wata'aala berfirman: "Dan sungguh Allah telah menurunkan
kepada kamu di dalam al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah
diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah
kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang
lain. karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu
serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua
orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam." (QS. an-Nisa`:
140).
Maka sebuah kewajiban bagi kita untuk mengingkari perbuatan maksiat
yang kita temui sekuat tenaga dan kemampuan kita, menjauh dan mengelak
dari perbuatan-perbuatan dosa tersebut. Ingat bahwa Allah subhanahu
wata'aala senantiasa mengawasi gerak-gerik kita dan para malaikat selalu siap
mencatat segala ucapan dan perbuatan kita. Berupayalah untuk selalu
menjaga lisan karena lisan tidak bertulang, mudah terpleset dan jatuh
kedalam kebinasaan dan kecelakaan. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata'aala
senantiasa membersihkan dan mensucikan lisan dan pendengaran kita dari
segala noda dan keburukan. Wallahul Musta`an.
Sumber: Disadur dari risalah "Falaa Taq`uduu Ma`ahum", Abdul Malik
al-Qosim. Oleh: Andri Abdul Halim Abu Thalhah
Netter Al-Sofwa yang dimuliakan Allah Ta'ala, Menyampaikan Kebenaran
adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah
adalah dengan menyampaikan Artikel ini kepada saudara-saudara kita yang
belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta'ala Membalas 'Amal Ibadah Kita. Aamiin
Waassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
---------------------------------------------------------------------
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810
Jakarta Selatan - Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326.
e-mail: Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya , Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya ,
Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya
website: www.alsofwah.or.id

















