Agama Adalah Rahmat Dari Allah
Setiap Rasul membawa rahmat bagi ummat manusia. Wahyu yang diterima dari Allah SWT yang mengutus Rasul‑Rasul sejak awal hingga Muhammad SAW membawa manusia ke Rahmat Allah.Kejadian manusia sungguh luar biasa. Kita yakin, manusia pertama itu, pasti tidak kera, juga tidak monyet, atau makhluk lain yang tidak sejenis manusia. Tentulah manusia pertama itu, adalah manusia juga, seperti kita. Itu sudah pasti dapat dicerna akal sehat. Hubungan terpendek, adalah ibu dan bapak kita masing‑masing, bersambung terus ke atas, hingga sampai pada manusia asal, manusia pertama. Hukum ini, berterima dalam jalur pikiran manusia.
Sebelum kita ada, kita tidak mengetahui, kita ada dimana, bahkan tidak tahu bagaimana keadaan kita. Alangkah minimnya ilmu kita tentang diri kita ini, sebelumnya. Namun kita yakin, keberadaan kita melalui satu proses "kelahiran". Tidak seorang manusia pun, yang keberadaannya di sini, tanpa melalui "rahim ibu". Walaupun di dalam penciptaan "bayi tabung" sekalipun hingga hari ini. Sungguh luar biasa, penciptaan manusia, yang mengetengahkan satu proses, dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Tidak kah hal ini mengundang kita untuk merenungkan keberadaan kita sekarang? Dan banyak lagi pertanyaan yang tindih bertindih. Akhirnya, hanya bermuara kepada Maha Suci Allah, Maha Pencipta.
Karena itu, jangan lupa berterima kasih, jangan lengah dari memperhatikan semua ciptaan Allah. Keinginan untuk mengucapkan terima kasih, tidak pernah keluar dari diri kita, karena tidak pernah tahu, karena kita tidak mengerti apa yang harus diberi ucapan terima kasih. Akal kita menjadi beku, karena kita tidak berkehendak menyelidiki nikmat Allah. "Dan Dia (Allah) ajarkan kepaa Adam nama‑nama (benda) seluruhnya" (QS. 2 Al‑Baqarah, ayat 31). Peristiwa ini, sudah lama terjadi. Sejak bumi pertama kali didiami manusia pertama (Adam). Allah mengajarkan pengertian‑pengertian tentang benda‑benda, memberikan kepada manusia akal, yang mampu menyerap ilmu, kemudian mengungkapkan dalam berbicara.
Manusia pun dibedakan dengan makhluk lain, di antaranya dengan kemampuan mensyukuri ni'mat Allah. Allah mengajarkan pertama kali kepada manusia, ilmu berkata‑kata, melalui pengenalan benda‑benda. Karena itu, bagaimanapun bentuk ilmu pengetahuan pada saat sekarang dan masa datang, Alquran akan tetap menjadi penuntun manusia, agar tidak terjerumus kepada dalamnya jurang kehinaan. Ajaran agama, sangat berbeda dengan ilmu‑ilmu pengetahuan ciptaan manusia.
Ilmu pengetahuan, mengarah kepada persoalan yang khas duniawi, bersifat mengembangkan teori, mengadakan eksperimen, tidak mampu merobah watak manusia secara utuh. Ilmu pengetahuan hanya mampu memindahkan "pengetahuan", kepada siapa yang mempelajarinya. Ilmu pengetahuan kedokteran, hanya mampu mengubah sesuai dengan kepentingan ilmu itu sendiri.
Kita telah mengabaikan ilmu, yang merupakan pemberian Allah, hingga kita termasuk juga orang‑orang yang tak berilmu untuk itu. Orang yang tak berilmu, pada hakekatnya adalah orang yang tidak berakal. Orang yang tak berakal, adalah orang yang tak pernah mengucapkan terima kasih. Agama hanya bagi orang‑orang yang berakal. Ujungnya manusia yang tak pandai berterima kasih kepada Allah Yang Maha Menjadikan manusia itu sendiri, bagaimana bisa dituntut untuk berterima kasih kepada semua manusia sendiri ?
Terima kasih, dibuktikan dengan ketundukkan, penghambaan dan pengabdian. Merasa diri kecil dihadapan Yang Maha Pemberi, Maha Rahman dan Maha Rahim. Penghambaan, merupakan bukti dari sebuah kecintaan yang luhur, siapapun yang mencintai sesuatu, berarti dianya bersedia memperhambakan diri kepada yang dicintainya. Inilah salah satu tujuan umat bertaqwa dengan ibadah puasa, “la’allakum tasykurun”, agar pandai berterima kasih (syukur) kepada Allah yang telah menjadikan semua-muanya.Wallahu a’lamu bi al-shawaab.***

















