Mendayagunakan Budaya Minangkabau Sebagai Daya Tarik Industri Wisata Di Sumatera Barat
Pengantar
Boleh jadi semua orang sependapat bahwa, hasil usaha manusia sepanjang hidup untuk memenuhi berbagai hasrat dan keinginannya yang disebut dengan budaya itu, dibentuk, dijaga, dipertahankan, dikembangkan dan tidak ada pikiran untuk menjualnya. Jika ada pikiran untuk menjual hasil budaya, event-event budaya dan beragam bentuk kesenian, pikiran demikian datang kemudian, di luar usaha pembentukan budaya itu sendiri.
Menjual hasil budaya, dengan bahasa yang lebih beradab; industri wisata adalah usaha yang datang dari pemikiran komersial. Namun hal itu tidak mengapa, asal saja jangan sampai hasil-hasil budaya yang sudah terbentuk sebegitu lama, akhirnya takluk oleh selera pasar yang tidak menguntungkan untuk perkembangan kebudayaan itu sendiri. Apakah memang ada yang akan dijual atau apakah memang ada pembelinya, atau apakah barang yang kita jual itu laku atau tidak, itu adalah persoalan lain lagi.
Pemahaman Jender Dalam Budaya Minangkabau
Ditulis oleh Puti Reno Raudha Thaib,
Kamis, 01 Januari 2009
Kalaulah istilah jender itu secara luas dipahamkan sebagai kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, maka masyarakat Minangkabau sudah lama menerapkan kesetaraannya dengan idiom dan penafsiran tersendiri. Kalau kesetaraan secara umum dimaksudkan; harus adanya pemisahan fungsi dan peranan laki-laki dengan fungsi dan perempuan, maka pemisahan demikian tidak ditemukan di dalam adat Minangkabau. Pemisahan perananan antara fungsi dan kedudukan laki-laki dengan peranan dan fungsi perempuan, tidak pernah secara tegas dinukilkan dalam aturan adat Minangkabau, yang seharusnya dapat ditelusuri melalui pepatahpetitih, mamang, ungkapan atau idiom-idiom budayanya. Peranan dan fungsi yang diberlakukan adat pada perempuan tetap dalam konteks hubungannya dengan kaumnya, keluarganya. Tak pernah perempuan dilihat sebagai seorang individu, sebagaimana pemahaman perempuan dalam pemikiran kesetaraan jender yang umum dikenal saat ini.
Perempuan Vs Undang-Undang Pornografi Dan Pornoaksi
Ditulis oleh Puti Reno Raudha Thaib,
Selasa, 30 Desember 2008
Pornografi dan pornoaksi merupakan masalah yang selalu muncul sepanjang sejarah kehidupan manusia. Dalam berbagai kajian antropologi, sosiologi, kesusasteraan maupun sejarah terutama pada peninggalan-peninggalan masa lalu berupa pahatan di batu-batu, patung-patung, relief di dinding-dinding candi, lukisan-lukisan klasik India, Jepang, Iran, Cina, Yunani, juga berupa tulisan dan berbagai mitologi, legenda dan cerita rakyat, aspek-aspek pronografi dan pornoaksi selalu muncul. Boleh dikata, hampir semua bangsa mengalaminya namun mereka selalu pula berusaha mengatasinya dengan berbagai cara.
Dunia Itu Fata Morgana
Ditulis oleh Abu Thalhah Andri Abd Halim,
Senin, 29 Desember 2008
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Banyak sekali ayat ataupun hadits-hadits Rasulullah, yang menyatakan tentang perbandingan antara keutamaan dan kenikmatan kehidupan akhirat dan kehidupan dunia, yang mana akan didapati betapa jauhnya kemuliaan diantara keduanya, bahkan tidak sedikit akan adanya celaan terhadap kehidupan dunia. Akan tetapi celaan tersebut tidaklah ditujukan kepada siang dan malamnya, bumi tempat dunia ini berada, lautan, sungai-sungai, hutan dan yang lainya karena semua itu adalah nikmat Allah bagi hamba-hambaNya, tetapi celaan itu ditujukan kepada polah tingkah anak Adam dan penghuninya terhadapnya. Allah Ta'ala berfirman :"ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri diantara kalian dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak". (QS. Al-Hadid : 20)
ABS-SBK Hanya Sebatas Konsensus, Bukan Produk Hukum
Ditulis oleh Wisran Hadi ,
Selasa, 23 Desember 2008
Hampir semua orang Minang beranggapan bahwa ADAT BASANDI SYARA’, SYARA’ BASANDI KITABULLAH (selanjutnya disingkat ABS-SBK) adalah hasil kesepakatan antara alim ulama, ninik mamak dan candiak pandai di Bukit Marapalam dipenghujung Perang Paderi.
Namun sampai sekarang, tidak seorangpun ahli sejarah apalagi para penghulu yang dapat menyodorkan manuskrip atau naskah kesepakatan itu kepada kita. Para ahli sejarah maupun para penghulu pun tidak berani menentukan hari, tanggal, bulan dan tahun bila lahirnya kesepakatan itu. Juga mereka tidak dapat menyajikan kepada kita daftar nama-nama para ulama, ninik mamak dan cadiak pandai yang hadir dan menyetujuinya.
Sumatera Barat, Pemberontak yang takluk
Ditulis oleh Amiruddin,
Jumat, 19 Desember 2008
Sumatera Barat adalah daerah luar Jawa yang paling banyak menyumbang tokoh di panggung politik nasional, sejak era kolonial sampai era Soeharto. Tokoh-tokoh Sumatera Barat itu juga mewakili semua spektrum ideologi politik, mulai dari Tan Malaka hingga Hamka. Karena itu, Sumatera Barat memiliki tempat tersendiri dalam sejarah politik Indonesia.
Sumatera Barat pernah menggelorakan pemberontakan terhadap penguasa pusat yang dianggap otoriter dan sentralis, baik di era kolonial maupun di masa Indonesia merdeka. Namun, ketika penguasa paling sentralis dan otoriter berkuasa di Indonesia, yaitu rezim militer Orde Baru, Sumatera Barat menjadi anak manis.
Seni Berperang Minang Kabau
Ditulis oleh www.pelaminanminang.com,
Selasa, 16 Desember 2008
Sun Tzu adalah seorang ahli strategi militer terkenal bangsa Cina yang menulis buku "The Art of War", sebuah buku mengenai strategi militer klasik yang dapat diaplikasikan dalam banyak bidang mulai dari bisnis hingga pemasaran. Di Minangkabau juga terdapat sebuah buku tentang strategi militer yang mengajarkan kepada pasukan Belanda cara berperang lebih baik dalam melawan orang-orang Minang yang menjadi buku wajib untuk dibaca perwira-perwira Belanda yang ditugaskan ke Sumatera Barat.