Syaithan Sebagai Musuh Manusia
Sejak Iblis pertama kali diperkenalkan kepada Adam pasa awal diciptakan jenis makhluk itu, telah tumbuh permusuhan yang datangnya dari pihak Iblis. Rasa iri, dengki dan takabur dari Iblis terhadap Adam diakhiri dengan sebuah konsekwensi yang tidak diduga sama sekali oleh Iblis, yaitu terusir dari Syurga dan laknat dari Allah.
Allah berfirman :
Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk,(QS 38:77)
sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan".(QS 38:78)
Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,(QS 15:34)
dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat".(QS 15:35)
Tiada nasib yang lebih hina dari ini, diusir dan kemudian masuk neraka. Hal ini adalah sebagian hukuman dari sikap dan kata-katanya kepada Allah: “Saya lebih baik dari pada Adam, saya Engkau jadikan dari api sedangkan dia Engkau jadikan dari tanah†(QS 38:76)
Iblis bukanlah Iblis namanya kalau tidak mempunyai rencana jahat selanjutnya. Dia makin dendam kepada Adam, karena Adamlah yang menyebabkan dia dikutuk Allah. Maka jalan satu-satunya adalah minta waktu kepada Allah, minta kesempatan untuk menjerumuskan Adam dari tempat yang sekarang ini yaitu dari tempat pertamanan yang indah (Syurga).
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan".(QS 38:79)
Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,(Qs 38:80)
sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)".(QS 38:81)
Bukankah Iblis itu cerdik?, ia tidak mau disiksa sekarang, pasti ia tidak dapat menggoda Adam dan anak cucunya. Padahal ia bermaksud mengajak atau menggelincirkan anak cucu Adam ke dalam neraka. Maka dari itu Iblis minta waktu, mita siksa yang akan diterimanya itu ditangguhkan sampai hari kiamat. Biar ia bisa leluasa menggoda anak cucu Adam Hawa. Buah itu telah dimakan. Dan buah inilah yang menyebabkan Adam diusir dari pertamana indah, tempatnya bersenang-senang semula.
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.(QS 20:123)
Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan".(QS 7:24)
Kini telah tiba apa yang diharap-harapkan Iblis, Adam dan Hawa serta Iblis di usir dari Syurga, kali ini Iblis diusir untuk yang kedua kalinya. Kali pertama sewaktu dia menolak untuk bersujud kepada Adam sewaktu dijadikan khalifah.
Tentu saja Adam menjadi musuhnya, walaupun tidak diproklamirkan oleh Allah bahwa adam dan iblis bermusuhan, mereka dengan sendirinya menjadi musuh yang satu dengan yang lain. Riwayat hidup dan mati, tentang nasib sampai di alam sesudah alam yang sekarang ini, semua itu ditentukan oleh peristiwa antara Adam dan Iblis pada awal kisah. Dalam ini Iblis berkata kepada Allah :
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,(QS 38:82)
Didalam Alqur’an banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan bahwa Iblis atau Syaithan adalah musuh manusia. Manusia selalu digoda atau dijakan Syaithan untuk berbuat yang tidak sesuai dengan perintah agama. Dan Allah banyak memperingatkan manusia supaya awas dan waspada terhadap syaithan.
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS 2:168)
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.(QS 35:6)
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",(QS 36:60)
Bagaimanakah jadinya andai kata tidak menganggap Syaithan itu sebagai musuh kita, lantas dari pihak syaithan tetap menganggap kita sebagai musuh?. Akibatnya pasti kita yang rugi sendiri , kita akan tertipu oleh syaithan dan kita akan dijadikan sebagai musuh yang empuk. Apa saja kehendak syaithan pasti tercapai sebab kita akan lengah. Bukankah kita lantas tidak mempunyai pertahanan dalam menghadapi serangan lawan?, karena kita tidak mengetahui bahwa ada musuh ?. Kiranya musuh masih jauh atau tidak ada sama sekali?, tetapi ternyata musuh telah berada dipelupuk mata bahkan sudah berada dalam aliran darah kita dan menguasai hati serta jalan pikiran kita. Akibatnya kita kecurian atau katakanlah benteng pertahanan kita jebol.
Sejak dari awal Allah sudah memperingatkan kepada Adam bahwa Syaithan adalah sebagai musuhnya sebagai mana Firman allah :
maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"(QS 7:22)
Dengan cara ini tampak oleh Adam kesungguhan iblis yang tidak sedikit pun membayang di mukanya sesuatu yang mencurigakan, dan apa yang dikemukakannya dan diadviskannya itu adalah bohong atau tipu daya belaka, maka terpengaruhlah keduanya kepada bujukan iblis penipu itu, lalu memakan buah pohon yang Allah melarang mendekatinya, lalu keduanya lupa sama sekali akan kedudukan mereka dan larangan Allah kepada mereka sebagaimana firman Allah:
Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (Q.S Thaha: 115)
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa yang terpengaruh lebih dahulu dari bujukan iblis itu ialah Hawa yang kemudian menyuruh suaminya memakan buah yang dilarang Allah memakannya sebagaimana pengakuan Adam a.s. di dalam riwayat berikut: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Adam memakan buah kayu itu dikatakan kepadanya, kenapa kamu memakan buah kayu yang Aku larang memakannya itu? Adam menjawab: "Hawa yang menyuruh saya." Kenyataan menunjukkan bahwa wanita itu mudah dan gampang terpengaruh kepada sesuatu apalagi yang berupa bujukan dan rayuan tanpa memikirkan dan memperhitungkan akibatnya, kecuali yang kuat imannya. Tatkala keduanya telah merasakan buah yang dimakannya itu, maka mulai tampak oleh mereka aurat masing-masing. Adam a.s. ketika melihat auratnya memetik daun pohon di dalam surga untuk menutupi auratnya, demikian pula Hawa.
Setelah kejadian tersebut Allah swt. mencercanya karena tidak mengindahkan larangan-Nya dan tidak mematuhi-Nya namun ia terpedaya dan menuruti bujukan iblis penipu itu lalu memperingatkannya: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua mendekati pohon itu dan memakan buahnya. Dan telah menandaskan kepadamu, bahwa setan itu adalah musuhmu yang nyata apabila kamu turutkan kemauan dan kehendaknya Aku mengeluarkan kamu dari kehidupan yang lapang, senang dan bahagia kepada kehidupan yang penuh kesulitan, penderitaan dan kesusahan
Terlihat jelas bahwa ide dasar yang terdapat dalam diri manusia adalah "tertutupnya aurat", namun karena godaan setan, aurat manusia terbuka. Dengan demikian, aurat yang ditutup dengan pakaian akan dikembalikan pada ide dasarnya. Wajarlah jika pakaian dinamai tsaub/tsiyab yang berarti "sesuatu yang mengembalikan aurat kepada ide dasarnya", yaitu tertutup.
Dan ayat di atas juga tampak bahwa ide "membuka aurat" adalah ide setan, dan karenanya "tanda-tanda kehadiran setan adalah "keterbukaan aurat". Sebuah riwayat yang dikemukakan oleh Al-Biqa'i dalam bukunya Shubhat Waraqah menyatakan bahwa ketika Nabi Saw. belum memperoleh  keyakinan tentang apa yang dialaminya di Gua Hira --apakah dari malaikat atau dari setan-- beliau menyampaikan hal tersebut kepada istrinya Khadijah. Khadijah berkata, "Jika engkau melihatnya lagi, beritahulah aku". Ketika di saat lain Nabi Saw. Melihat (malaikat) yang dilihatnya di Gua Hira, Khadijah membuka pakaiannya sambi1 bertanya, "Sekarang, apakah engkau masih melihatnya?" Nabi Saw. menjawab, "Tidak, ... dia pergi." Khadijah dengan penuh keyakinan berkata, "Yakinlah yang datang bukan setan, ... (karena hanya setan yang senang melihat
aurat)".
Dalam hal ini Al-Quran mengingatkan:
Wahai putra-putra Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia (telah menipu    orang tuamu Adam dan Hawa) sehingga ia telah      mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia      menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan      kepada keduanya aurat mereka berdua (QS Al-A'raf [7]:   27).
Kata ketiga yang digunakan Al-Quran untuk menjelaskan perihal pakaian adalah sarabil. Kamus-kamus bahasa mengartikan kata ini sebagai pakaian, apa pun jenis bahannya. Hanya dua ayat yang menggunakan kata tersebut. Satu di antaranya diartikan sebagai pakaian yang berfungsi menangkal sengatan panas, dingin, dan bahaya dalam peperangan (QS Al-Nahl [16]: 81).
Satu lagi dalam surat Ibrahim (14): 50 tentang siksa yang akan dialami oleh orang-orang berdosa kelak di hari kemudian: pakaian mereka dari pelangkin. Dari sini terpahami bahwa pakaian ada yang menjadi alat penyiksa. Tentu saja siksaan tersebut karena yang bersangkutan tidak menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang diamanatkan oleh Allah Swt.
Bersambung ………….
Sumber :
-         Wawasan Alqur’an  oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A (www.isnet.org)
-         Syaithan sebagai tertuduh karangan Umar Hasyim
-         Tafsir Alqur’an DEPARTEMAN Agama Republik Indonesia (http://c.1asphost.com)