Agama Yang Diridhai Allah (Bag-2)

Senin, 30 Januari 2012 16:06 pandaisikek.net
Cetak PDF

3). Surat Ali-Imran ayat 19

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.(QS 3:19)

Orang berilmupun mendapat syahadah dan memberikan pengakuan , memang tidak ada Tuhan melainkan Allah , setelah menilik kesaksian dan penjelasan Allah sendiri pada ciptaanNya. Kalau telah dapat mengenal dan menyaksikan Tuhan melihat bekas ciptaanNya, dengan sendirinya timbullah penyerahan diri kepada Allah, tunduk kepada Allah, mengakui kebesaran Allah, mengakui berdiriNya dengan keadilan. Pengakuan yang timbul dari lubuk hati dan keinsafan. Timbul damai dalam jiwa sebab telah mendapat hakikat yang sebenarnya. Kalau suasana itu telah dicapai, itulah dia Islam.

Kata ad-din ialah biasa kita artikan ke dalam bahasa kita dengan agama. Ada juga menyebut agama dan ada juga menyebut igama. Sedang arti ad-din itu menurut asli Arabnya ialah tha'at tunduk dan juga balasan. Sebab itu maka yaumud-din, berarti hari pembalasan. Maka di dalam ta'rif syariat segala perintah yang dipikulkan oleh syara' kepada hamba yang telah baligh tapi berakal (mukallaf), itulah agama dia. Kadang-kadang disebut juga dengan kata lain, yaitu mullah, yang berarti agama juga. Dengan memakai kata millah atau millat, maka cakupan ad-din itu menjadi meluas lagi, mencakup sekalian peraturan hidup, bukan saja ibadat, bahkan juga mengatur negara. Itu sebabnya maka di Iran,Turki dan Paki­stan kata-kata millah itu dipakai juga untuk kenegaraan. almarhum Liaquat Ali Khan, Perdana Menteri Pakistan yang syahid terbunuh diberi mereka gelar quaidi millah (pemimpin negara) sebagai Ali jinnah diberi gelar quardi azam (pemimpin agung).

Kata Islam adalah mashdar, asal kata. Kalau telah menjadi fi'il madhi (perbuatan), dia menjadi aslama. Artinya dalambahasa kita ialah menyerah diri. Pokok asal sekali ialah hubungan tiga huruf s-l-m yang artinya selamat sejahtera. Menjadi juga menyerah, damai dan bersih dari segala sesuatu. Kalau disebut dalam bahasa Arab salaman li rojulin , artinya ialah sesuatu kepunyaan seorang iaki-laki yang tidak berserikat dengan yang lain. Maka setelah memahami arti dari kata ad-din dan al-Islam sebagai yang diutarakan di atas, dapatlah difahamkan maksud ayat ini: "sesungguhnya yang agama di sisi Allah ialah Islam." Atau lebih dapat ditegaskan bahwa yang benar-benar agama pada sisi Allah hanyalah semata menyerahkan diri kepadaNya saja. Kalau bukan begitu , bukanlah agama .

Oleh karena itu maka sekalian agama yang diajarkan Nabi­-nabi yang dahulu, sejak Adam lalu kepada Muhammad, termasuk Musa dan Isa , tidak lain daripada Islam. Beliau-beliau mengajak manusia supaya Islam; menyerah diri dengan tulus-ikhlas kepada Tuhan, percaya kepadaNya, kepadaNya saja. Itulah Islam , dan sekalian manusia yang telah sampai menyerah diri kepada Allah yang tunggal , tidak bersekutu yang lain dengan Dia, walaupun dia memeluk agama apa , dengan sendirinya dia telah mencapai Is­lam. Syari'at nabi-nabi bisa berubah karena perubahan zaman dan tempat , namun hakikat agama yang mereka bawa hanya satu : Is­lam . Sebab maksud agama adalah dua perkara: Pertama, membersihkan jiwa dan akal dari kepercayaan akan kekuatan ghaib yang mcngatur alam ini , yaitu percaya hanya kepada Allah dan berbakti , memuja dan beribadat kepadaNya . Kedua , membersihkan hati dan membersihkan tujuan dalam segala gerak­-gerik dan usaha , niat ikhlas kepada Allah. Itulah yang dimaksud dengan kata-kara Islam.

Lantaran itu dapat ditegaskan pula, walaupun dia mengakui orang Islam, keturunan Islam, ibu-bapa Islam, tinggal dalam negeri Islam, kalau akal dan hatinya tidak bersih dari pengaruh lain, selain Allah, maka tidaklah sesuai nama yang dipakainya dengan hakikat yang sebenarnya. Sama saja dengan orang bergelar "Datuk Raja di Langit", padahal di bumipun dia tidak jadi raja. Dia mengaku Islam, tetapi tempatnya mcnyerahkan dirinya ialah gurunya; dia taqlid saja kepada guru itu. Dia tidak memakai perlindungannya sendiri. Atau dia mengaku Islam, tetapi kuburan yang dikatakannya keramat lebih diramaikannya daripada mesjid tempat mcnyembah Allah. Dia lebih banyak meminta dan memohon kepada yang mcngisi kubur itu, atau mereka itu dijadikan perantara buat mcnyampaikan permohonannya kepada Allah. Orang semacam ini semuanya mungkin telah termasuk golongan Islam di dalam perhitungan (statistik) dan dalam geografi (ilmu bumi), tetapi belum tentu bahwa jiwanya sendiri adalah Muslim, yang menyerah bulat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Masing-masing manusia dengan akal murni dan ilmunya sendiri bisa mencapai dasar percaya kepada keesaan Tuhan, bisa sampai kepada suasana penyerahan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan sendirinya. Sehingga kelak apabila dicocokkannya hasil penyerahan diri (Islam) dengan wahyu, tidak akan berapa selisihnya lagi.

Tetapi timbul kesulitan bukan pada mereka, melainkan pada orang-orang yang keturunan kitab, yang Yahudi dan Nasrani, sesudah mereka mendapat ilmu , ialah karena agama sudah diikat dengar ketentuan-ketentuan pendeta . Sehingga bukan lagi agama Allah, melainkan agama pendeta. Misalnya fikiran murni manusia telah mencapai kesimpulan bahwa Allah itu memang pasti Esa tetapi pendeta memutuskan bahwa itu tidak benar ! Yang benar ialah mesti diakui bahwa Allah itu beranak , atau bahwa Nabi Isa bukan saja anak Allah, tetapi diapun Allah atau satu dari tiga oknum .

Banyak dari ahli-ahli fikir Eropa yang dari lanjumya berfikir sampailah dia kepada pengakuan akan adanya Allah. Terkenallah kaum Rasionalis atau Deis, diantaranya Voltaire pujangga Perancis yang terkenal, telah sampai kepada kesimpulan bahwa Tuhan Allah itu memang ada. Tetapi mereka dikucilkan dari gereja, dipandang tidak beragama lagi, sebab kependetaan tidak mengakui kesimpulan fikir-an mereka, banyaklah dari ahli-ahli fikir itu sampai kepada zaman kita sekarang ini beriman yang mendalam sekali tentang adanya Allah , sebagai Pencipta alam , tetapi mereka mengakui terus-terang bahwa mereka mengakui adanya Allah sebagaimana yang diputuskan oleh rumusan pendeta bukan Allah yang berupa manusia.

Kita kaum Muslimin mempercayai dengan sedalam-­dalamnya, bahkan menjadi bahagian yang tidak
dapat dipisahkan dari keseluruhan i'tikad kita bahwa agama yang diajarkan oleh Nabi Isa Almasih tidak lain daripada Agama Islam sebagai yang telah ditunjukkan oleh ayat ini , dan ayat yang lain , penyerahan diri yang timbul daripada ilmu keinsafan kepada Allah; lalu dirumuskan menjadi La Ilaha illa Allah, Tiada Tuhan melainkan Allah, dan Isa Rasulullah ! Asasnya ialah Tauhid.

Tetapi karena pengaruh raja-raja yang berkuasa, berpadu dengan pengaruh pimpinan rohaniyat, yaitu kaum pendeta bagi kepentingan politik dan kekuasan dibentuklah kepercayaan itu menurut kehendak mereka dan diputuskan demikian, dan tidak boleh dilanggar dari yang diputuskan itu. Akhirnya timbullah perpecahan yang dahsyat di antara satu golongan dengan golongan yang lain dalam satu agama, sampai musnah-memusnahkan. Golongan Arius misalnya. Arius terkenal menolak keras kepercayaan Trinitas dan dia menegaskan Tauhid ; Allah adalah Esa , Isa Almasih adalah Rasul Allah, Ruhul Qudus bukan sebahagian dari Tuhan. Arius menentang syirik.

Maka Kaisar Constantin yang telah menerima agama Kristen dengan resmi menjadi agama kerajaan Roma sesudah ditantang demikian hebat di zaman Nero; Constantin telah campur-tangan menyelesaikan soal itu. Kaisar menyebelahi faham trinitas. Dan Arius serta sekalian penganut fahamnya dipandang telah melanggar ketentuan gereja. Kitab-kitabnya dibakar dan penganutnya di mana-mana dikejar-kejar. Inl terjadi dalam tahun 325 Masehi, artinya 3 abad setelah Nabi Isa meninggal dunia. Dan 300 tahun pula sesudah ltu (tahun 628) dikeluarkan lagi undang-undang untuk menyapu bersih segala faham Arius, karena rupanya masih saja ada. Undang-undang ini dikeluarkan oleh Kaisar Theodusius II.

Terus-menerus terjadi pertentangan faham agama yang hebat, tidak berhenti-henti, dan lebih terkenal lagi perang 80 tahun di Eropa di antara pembela Katholik dengan pembela Protestan, sehingga akhirnya ahli-ahli negara yang kemudian memutuskan saja bahwa agama mesti dipisahkan dari urusan kenegaraan, karena hanya akan membawa kacau saja.

Kita kemukakan soal ini ialah untuk membuktikan maksud ayat bahwa Ahlul-Kitab timbul silang sengketa sesudah mereka mendapat ilmu yang nyata tentang hakikat agama , ialah setelah ada baghyan, artinya pelanggaran batas. Yaitu pemuka agama telah melampaui batas mereka , mereka telah menguasai agama dan memutuskan tidak boleh berfikir lain dari apa yang mereka putuskan. Dan kalau mereka berkuasa, mereka tidak segan bertindak kejam kepada orang yang dipandang sesat, walaupun dengan memberikan hukuman yang sengerl-ngerinya sekalipun.


Ayat ini adalah satu peringatan (sinyalemen), terutama kepada kita kaum Muslimin. Apabila orang telah melampaui batasnya, manusia hendak mengambil hak Tuhan, perpecahan itu pulalah yang akan terjadi.

Dalam Islam telah timbul sebagai Mazhab. Seumpama Syi'ah, Khawarij, Murji'ah, Mu'tazilah dan Ahlus Sunnah. Sejarah 14 abad bukan sedikit, menumpahkan darah sesama Muslimin karena perlainan Mazhab. Wazir al-Alqami yang bermazhab Syi'ah tidak merasa keberatan membuat hubungan rahasia dengan Holako Khan , sehingga Baghdad , pusat Khalifah Bani Abbas diserang, dihancurkan, dibakar habis dan khalifah dibunuh (656H-1268M). Apa sebab dia berkhianat demikian rupa? Ialah karena dia membela faham Syi'ah, dan Khalifah sendiri adalah seorang penganut faham Sunnah. Akhirnya wazir itu sendiripun dibunuh oleh Holako Khan.

Orang yang tidak menerima ketentuan-ketentuan dari Allah bahwasanya hakikat agama hanyalah satu, yaitu menyerahkan diri kepada Allah Yang Maha Esa , dan persatuan manusia di dalam pokok kepercayaan , dan memandang bahwa tujuan segala Rasul Allah hanyalah satu, yaitu membawa manusia dari gelap-gulita syrik kepada sinar Tauhid.

Perhitungan Allah cepat sekali mengambil tindakan. Yaitu bahwa apabila langkah telah salah dari permulaan, akibatnya akan segera terasa. Kadang-kadang dari sebab yang kelihatan kecil saja, mengakibatkan kehancuran yang besar dalam sekejap waktu. Seumpama satu pancuran air di lereng gunung tersumbat oleh sehelai daun cempedak. Tiba-tiba pada malam hari turun hujan lebat; airpun limbah keluar dari kolamnya, melalui dan meruntuhkan pematang-pematang sawah. Kerugian sangat besar. Setelah hari siang baru diketahui bahwa sebabnya hanya dari sehelai daun cempedak menyumbat pancuran yang tidak diperhatikan pada mulanya. Atau seperti seorang perempuan yang lalai, tidak dipadamkannya sisa api puntung di dapur seketika dia akan tidur.

Tiba-tiba tengah malam dia tersentak karena terasa panas. Dia terbangun karena rumahnya telah diselubungi api. Dia tidak dapat membela diri lagi. Api menjalar dari rumahnya ke rumah tetangga kiri-kanan, dalam beberapa jam saja habislah kampung itu seluruhnya, menjadi tumpukan bara dan abu. tersebab dari puntung yang tidak dipadamkan ketika akan tidur. Inilah salah satu dari maksud ayat bahwa Tuhan cepat sekali perhitungannya.

Bersambung