Mangilang Tabu Secara Tradisional

Minggu, 05 Pebruari 2012 19:59 Elmirizal Chanan
Cetak PDF

Seekor kerbau berkeliling sementara pekerja memeras tebu di kawasan Perkebunan Tebu Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Minggu (15/05/2011). Warga penggiling tebu untuk dijadikan gula merah masih memanfaatkan jasa kerbau karena menurut mereka lebih cepat mengilang tebu dibandingkan menggunakan mesin.

Dari sebuah pondok berukuran 4x10 meter persegi beratap rumbia tanpa dinding, tampak aktivitas  lelaki dengan kerbaunya.  Ia sibuk menjejalkan potongan-potongan tebu ke mulut mesin peras tradisional. Potongan-potongan tebu yang terjepit mesin penggilingan tebu bertenaga kerbau itu keluar cairan manis, mengalir, lalu jatuh ke dalam baskom penampungan. Uniknya, mata kerbau harus ditutup. “Kalau tidak ditutup, ia malah berhenti bekerja”,

Kerbau yang menjadi ‘motor’ penggerak mesin giling itu disebut Kabau Pangilang atau Kerbau terus berputar 360 derajat. Tanpa dihela, tanpa dicambuk. Ia mengelilingi poros mesin, hingga menimbulkan jejak melingkar.

Air sari perahan yang manis pun dituang dalam kuali besar untuk kemudian dipanaskan dalam tungku batu berbahan bakar kayu dan ampas tebu. Dan bila air tebu telah mengental coklat kemerahan, itulah saatnya menyiapkan cetakan-cetakan kayu. Pasta coklat dituangkan, dalam waktu 2 (dua) jam kepingan-kepingan gula merah mengeras nan manis dan siap dipasarkan.

Mangilang tebu, merupakan warisan keluarga turun-temurun selain bertani, mengukir, bertenun dan berdagang. Aktivitas yang banyak dilakukan oleh sebagian penduduk Pandaisikek .