Pernah mempu
nyai uang pecahan 5.000 rupiah ? Setiap kita tentunya memiliki uang tersebut baik dalam saku mau pun dalam dompetĀ . Nah, jika kita amati bersama, maka akan kita temui gambar seorang wanita yang tengah menenun di dalam pecahan 5.000 itu. Ya, itu adalah gambar seorang wanita yang tengah menenun. Tepatnya Tenun Pandai Sikek. Inilah salah satu bentuk apresiasi pemerintah Republik Indonesia terhadap hasil karya anak bangsa.
Nagari yang termasuk ke dalam Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat ini memang terkenal sebagai kawasan penghasil tenun di Sumatera Barat. Mayoritas penduduk di daerah yang berada di lereng Gunung Singgalang ini beraktifitas sebagai peng rajin tenun. Aktifitas ini telah turun temurun dikerjakan semenjak ratusan tahun yang lalu. Tak ayal lagi setiap orang yang datang ke daerah Pandai Sikek, maka mereka akan dengan mudah mendapati setiap rumah yang tengah menenun songke t. Di Minangkabau sendiri, kain songket/tenun biasa disebut dengan kain balapak.
Kisaran harga untuk hasil tenunan ini sangat beragam. Di mulai dari 900 ribu rupiah untuk yang belum jadi hingga 2juta rupiah untuk yang dipasarkan di Bukit Tinggi atau daerah-daerah l ain.
Yang menarik dari tenun Pandai Sikek ini adalah motif yang ada pada setiap tenunan. Para pengrajin tenun Pandai Sikek ini mengambil contoh motif dari kain-kain tua yang dulunya (hingga saat ini) digunakan sebagai pakaian pada upacara adat dan pajangan pada acara batagak (mendirikan) rumah. Ini salah satu bukti bahwa dari dahulu hingga sekarang, masyarakat Pandai Sikek masih melestarikan budaya yang telah diwariskan semenjak ratusan tahun yang lalu.