Nagari Pandai Sikek Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar dikenal karena dua hal: tenunan dan seni ukirnya. Dibanding tenunan songket, seni ukir lebih mudah berkembang sebab bisa dipelajari oleh siapapun. SeÂmenÂtara tenunan songket berÂsifat tertutup, sulit dipelajari oleh orang di luar Pandai Sikek.
Seni ukir mulai dikenal oleh bangsa Indonesia bermula sejak zaman batu muda (neolitik), yakni sekitar 1500 SM. Pada zaman itu nenek moyang bangsa Indonesia telah memÂbuat ukiran pada kapak batu, tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya.
Seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau lebih banyak dipahatkan pada kayu. Walau ada yang ditatahÂkan pada logam akan tetapi tidak disebutkan sebagai ukiran melainkan hanya sebagai hiasan kerajinan atau kriya logam.
Pandai Sikek merupakan salah satu daerah yang masih menjaga lestarinya seni ukir tersebut. Ada 130 motif yang masih lestari hingga kini. Sebanyak 60 motif tumbuh-tumbuhan, 32 motif binatang dan sifatnya, dan 38 motif alam.
Faktor terbesar pelestariannya berasal dari bengkel dan sanggar tradisional. Ada 38 sanggar di Pandai Sikek yang terus mengembangkan seni ukir. Dalam perkembangannya, sanggar dan bengkel tersebut mampu mengembangkan berbagai bentuk baru yang menguÂtamakan nilai estetis.
Seni Ukir yang Tak Pernah Tumpul
Keunikan seni ukir Pandai Sikek inilah yang menarik bagi Adirozal, dosen ISI Padang Panjang yang juga mantan Wakil Walikota Padang Panjang, melakukan penelitian terhadap seni ukir Pandai Sikek selama lima tahun. Temuannya itu dituangkannya dalam disertasi Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datarâ. Dalam disertasi itu disebutkan, seni ukir itu tidak akan punah di Pandai Sikek. Selalu ada yang ingin mempeÂlajarinya.
Transformasi seni ukir di Pandai Sikek awalnya tidak berlangsung di sanggar. Warga yang berbakat dan berminat hanya mencoba-coba dan meniru-niru karya ahli ukir. Pendidikan seni ukir mulai terarah semenjak 1970 ketika Ramli Dt Rangkayo Sati mendiÂrikan sanggar seni ukir, katanya kepada Haluan Jumat (18/2) usai mempertahankan disertatasinya depan Guru Besar FBSS UNP.
Sebagai pimpinan sanggar, Ramli Dt Rangkayo Sati merekrut warga Pandai Sikek yang mahir mengukir. Selain merekrut ahli ukir, Ramli Dt Rangkayo Sati mengajak pemuda-pemuda. Kelompok pemuda pertama yang menjadi warga belajar adalah Dirajo, Suardi, Fauzi St Padomanggih, Jastami Sidi Marah Alam. Menyusul kemudian Si On, Wardi TanÂjung, dan Zainal Marsal.
Setelah periode itu, sanggar tradisional dan bengkel kerja melakukan berbagai inovasi, tidak sekedar mencoba-coba dan meniru . Maka, seni ukir Pandai Sikek tidak hanya dijumpai di rumah adat dan balairung, ia bisa pula dilihat di rumah pribadi, gonjong perkantoran, restoran, hotel, perabot rumah tangga, pintu, dan mimbar masjid.
Ciri khas ukiran tradisioÂnal Pandai Sikek ditandai dengan motif yang bersumber dari alam dan bentuk penampangnya basandiang (segitiga lancip). Penampang basandiang disebabkan pengaruh pengguÂnaÂan peralatan pahat tradisiÂonal (layang-layang), ujar Ketua LPTO Kota Padang Panjang 2006-2010 ini.
Prinsip ukiran di Pandai Sikek mengacu filosofi alam takambang jadi guru. Umumnya motif ukiran diwujudkan dalam bentuk flora walaupun dalam judul atau penamaannya disebutkan alam fauna atau nama manusia. Misalnya motif siganjo lalai (nama gadis), simanjo lelo (nama laki-laki), kuciang lalok (kucing tidur), dan tupai managun (tupai tertegun).
Pelajaran di bengkel dan sanggar tradisional, terlebih dahulu harus mengetahui motif-motif tradisional tersebut sebelum mempelajari falsafah motif itu sendiri. Materi filosofi diberikan pada kelas diskusi, terkadang diberikan secara berkelakar atau bercanda.
Karena itulah, seni ukir Pandai Sikek, bagi masyarakatnya, tak hanya bermakna sebuah seni ukir, ia mengandung nilai-nilai. Arti lainnya, mempelajari seni ukir turut memahami makna-makna yang dibawa oleh seni ukir itu sendiri.
Rutinitas Biasa
Masyarakat kita cenderung pragmatis. Kalau ukiran tidak laku, siapa lagi yang akan membuat? Tiba-tiba nada suara Adirozal sedikit meninggi. Kekhawatirannya, sanggar dan bengkel tradisional itu bisa saja tergerus arus zaman.
Realitasnya, kini di Pandai Sikek hanya tersisa empat sanggar. Menurut Adirozal, penyebabnya karena mereka tidak dibina secara berkesinambungan. Ini tanggungjawab pemerintah, ujarnya.
Sanggar dan bengkel tradisional tersebutâdengan tidak banyak dukungan seperti menjalani rutinitas saja. Mereka belajar di sanggar, tapi tak mendapat banyak dari hasil pekerjaan itu. Padahal, sanggar dan bengkel tradisional tersebut dapat menjadikan orang untuk langsung bekerja.
Dibandingkan dengan pendiÂdikan formal, pendidikan di sanggar lebih efektif. Pembelajarannya langsung pada praktek dan memungkinkan mengurangi pengangguran.
Coba bayangkan bila tidak ada generasi muda yang mengukir. Budaya kita hilang, rumah adat tidak berukir, terjadi lost generation. Mestinya masuk ilmu pendidikan, masuk perhaÂtian pemerintah. Ukiran Jepara sampai ke Eropa karena didukung banyak pihak, tuturnya.
Perhatian pemerintah, begitulah yang ditunggu. Di Pandai Sikek, mereka telah berupaya melestarikan itu. Tapi perlu peningkatan dan campur tangan seluruh sinergi, bagaiÂmana mengembangkan, perlu Perindag Kotam, bagaimana mendidik dengan baik, perlu Dinas Pendidikan dan Perguruan Tinggi. Selama ini dikelola tradisional, apa adanya. Sedikit sekali campur tangan pemerintah, sedikit sekali yang ingin membuat mereka lebih baik, ujarnya.
Seni ukir Pandai Sikek memungkinkan untuk menjelajahi Indonesia, juga bersaing secara international. Menurut Adirozal, peluang ini belum termanfaatkan. Dinas Perindag belum pernah menjual. Dinas Kebudayaan belum pernah melestarikan, katanya tegas. (andika destika khagen)