Sejarah Minang Kabau (IX)
| Indeks Artikel |
|---|
| Sejarah Minang Kabau (IX) |
| Halaman 2 |
| Halaman 3 |
| Halaman 4 |
| Seluruh halaman |
I. Elok Nagari Dek Pangulu
K.1. Elok Nagari Dek Penghulu
Penghulu telah didirikan semenjak dari nagari asal Pariangan Padang Panjang. Dalam pemerintahan Kerajaan Pasumayam Koto Batu yang dipimpin oleh Sri Maharaja Diraja, telah didirikan dua orang penghulu pertama di Pariangan Padang Panjang, beliau itu adalah : Datuk Bandaro Kayo di Pariangan dan Datuk. Maharajo Basa di Padang Panjang.Begitulah selanjutnya sampai ke Kerajaan Dusun Tuo, Kerajaan Sungai Tarab (Bungo Satangkai), Kerajaan Bukit Batu Patah, dan Kerajaan Pagaruyung, begitu pula di luhak yang baru didirikan, maka dibesarkanlah penghulu di tiap-tiap nagari yang bru ditempati itu.
Penghulu-penghulu itulah yang akan memimpin anak nagari dalam segala seluk-beluk kehidupan mereka, penghulu itulah yang akan ” pa-i dahulu, pulang kudian “, penghulu itulah ” nan maelo parang jo barani, maelo karajo jo usaho, elo sarato tumpia, suruah sarato pa-i “. elok nagari dek panghulu, maksudnya adalah bahwa penghulu-penghulu itulah yang memimpin segala pekerjaan yang baik-baik dalam nagari.
Nagari terdiri dari labuah, tapian, balai dan musajik. Elok labuah dek batampuah, elok tapian dek rang mudo, elok balai dihiasi, elok musajik dek tuanku. Walaupun telah dibagi-bagi demikian rupa tentangan elok labuah, elok tapian, elok balai dan elok musajik kepada masing-masing fungsional di nagari, tetapi di atas itu semua penghululah yang memimpin semua pekerjaan untuk eloknya segala sarana nagari tersebut. Bahkan tidak itu saja, malainkan berbagai kebaikan dalam perilaku, budi pekerti, sopan santun dalam pergaulan bermasyarakat, penghululah yang sebagai pelopor untuk menegakkannya. Oleh karena itu, untuk memperbaiki nagari dengan masyarakatnya peranan penghulu adalah sangat penting sekali. Kembali sekali lagi setelah penghulu-penghulu dahulu membuka nagari, maka untuk menyelamatkan nagari inipun, penghulu sekarang harus berada digaris depan sebagai pelopor.
K.2. Sistem Kepemimpinan Setelah Islam
Bila orang menyebut kepemimpinan Minangkabau, maka fikirannya akan tertuju bahwa kepemimpinan masyarakat Minangkabau didasarkan kepada sistem tungku tigo sajarangan (tungku tiga sejarangan). Tungku tiga sejarangan ini adalah sebagai berikut :
- Kepemimpinan ninik mamak
- Kepemimpinan alim ulama
- Kepemimpinan cerdik pandai
Ketiga bentuk kepemimpinan ini lahir dan ada, tidak terlepas dari perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau sendiri. Mulanya hanya ada kepemimpinan di bidang adat saja, namun kemudian setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau dan akhirnya agama Islam ikut memberi corak terhadap pandangan hidup orang Minangkabau. Dengan kedatangan pengaruh agama Islam lahirlah pimpinan di bidang keagamaan yang disebut alim ulama. Baik karena kenyataan maupun karena diakui, alim ulama diikut sertakan memimpin kesatuan-kesatuan sosial masyarakat di dalam adat. Unsur pimpinan yang ketiga adalah cerdik pandai. Orang cerdik pandai sama lahirnya dengan kepemimpinan ninik mamak dalam arti menjadi penghulu kepala kaum. Orang-orang yang pintar dari sebuah kaum banyak jumlahnya. Pintar dalam pengetahuan adat dan pengetahuan umum lainnya. Mereka inilah yang digolongkan kepada golongan cerdik pandai walaupun merreka tidak pernah menempuh pendidikan sekolah. Dengan kata lain kepemimpinan cerdik pandai ini sudah ada sebelumnya, dan tidak benar kalau dikatakan kepemimpinan cerdik pandai muncul setelah adanya pendidikan formal seperti sekarang.
Ketiga corak kepemimpinan tadi mempunyai perbedaan terutama sekali statusnya dalam masyarakat adat. Kepemimpinan ninik mamak merupakan kepemimpinan tradisional, dia sesuai dengan pola yang telah digariskan oleh adat. Kepemimpinan secara berkesinambungan, dengan arti kata “patah tumbuah hilang baganti” dalam kaum masing-masing, suku dan nagari. Seseorang tidak akan dapat berfungsi sebagai ninik mamak dalam masyarakat adat, seandainya dalam kaum keluarga sendiri tidak mempunyai gelar kebesaran kaum yang diwarisinya.
Kepemimpinan alim ulama dan cerdik pandai dapat diperoleh oleh siapa saja tanpa membedakan asal usul dan keturunan. Kepemimpinan dan kharisma seorang alim ulama dan cerdik pandai tidak terbatas pada lingkungan masyarakat tertentu, dan malahan peranannya jauh di luar masyarakat nagarinya. Stratifikasi secara tegas terhadap tiga corak kepemimpinan tersebut sulit dibedakan lantaran ketiga corak kepemimpinan tersebut bisa terdapat pada diri seseorang. Betapa banyaknya sekarang ninik mamak yang juga cerdik pandai serta sebagai alim ulama.
Ketiga sistem kepemimpinan tadi dalam masyarakat minankabau disebut “tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin”. Ketiga unsur kepemimpinan ini saling melengkapi dan menguatkan. Tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin juga merupakan filosofi dalam kepemimpinan masyarakat Minangkabau. Ketiga unsur kepemimpinan ini berat sama dipikul, ringan sama dijinjing dalam membina dan memimpin anak kemenakan semenjak dahulu di Minangkabau.
K.3. Tingkat - Tingkat Kepemimpinan
Dalam membicarakan tingkat-tingkat kepemimpinan ini tercakup dua hal yang mendasar, yaitu siapa yang dipimpin dan siapa yang memimpin. Pengertian yang dipimpin dalam adat Minangkabau tidak lain adalah anak kemenakan sendiri dan di sini dapat diterjemahkan sebagai rakyat, sedangkan pemimpin adalah ninik mamak atau orang yang berfungsi sebagai pimpinan yang telah digariskan oleh adat.
Untuk membicarakan tingkat-tingkat kepemimpinan ini baik juga dipedomani talibun adat yang mengatakan :
Rang gadih mangarek kuku
Pangarek pisau sirauik
Paruik batuang tuonyo
Batuang tuo elok ka lantai
nagari ba ampek suku
dalam suku babuah paruik
kampuang banan tuo
rumah batunganai
(anak gadis memotong kuku, dikerat dengan pisau siraut, pisau siraut peraut betung tua, betung tua baik untuk lantai, nagari mempunyai empat suku, dalam suku berbuah perut, kampung bertua, rumah bertungganai).
Dari talibun adat di atas yang akan dikemukakan adalah tungganai, suku dan nagari, sedangkan kampung tanpa dikaitkan kesalah satu suku tertentu dan hanyalah mengandung arti teritorial semata-mata.

















