Akhirnya Istri Ku Bebas
Ketika aku menatap wajah istriku yang sedang duduk dipojok itu, mukanya terlihat pucat dan matanya berkaca-kaca, sepertinya ia sedang merasa takut dan bahkan mungkin sangat ketakutan sekali. Belum pernah rasanya aku melihat wajah istriku sepucat itu, begitu juga melihat matanya yang berkaca-kaca ketika memandang ku. Seandainya bukan karena rasa takut yang luar biasa atau pun sakit yang alang kepalang, takkan mungkin wajahnya menjadi pucat, sepucat itu. Selama ini aku merasa istriku adalah seorang wanita yang berhati tegar menghadapi berbagai masalah, ia tidak pernah merasa takut, karena ia selalu berpegang pada keyakinan, “Tak ada kusut yang takkan selesai dan keruh yang tidak akan jernih,”
Sudah berbagai cara aku lakukan untuk membebaskan istri ku, dan bahkan sudah puluhan juta uang dihabiskan untuk membebaskannya, namun derita itu tak jua kunjung berakhir. Dari satu daerah ke daerah lain terus kami upayakan, hingga akhirnya sampailah kami di suatu daerah yang merupakan tempat ke-lima bagi kami dalam mengadu nasib, kota yang terkenal dengan julukan Kota Bestari disitulah kini kami berada, dan di kota ini pulalah berakhirnya derita panjang yang dialami oleh istri ku tercinta. Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat, apalagi kalau dijalani dalam belenggu penderitaan.
“Dia lari, dan kami sudah berupaya mencarinya, tapi tak berhasil menemukannya,” Kata salah seorang petugas yang tengah menjalankan tugas penjagaan di ruangan itu. Aku terpaksa meninggalkan istri ku di ruangan pemeriksaan itu, karena aku harus menjemput anak kami yang bungsu terlebih dahulu kesekolahnya, tapi saat kami sampai di ruangan itu dia sudah tidak ada. Aku sesungguhnya merasa kecewa terhadap petugas di sana, kenapa istri ku bisa lari, pada hal aku sendiri sudah menanda tangani sebuah pernyataan untuk memberi izin kepada petugas untuk melakukan tindakan lain jika memang diperlukan untuk penyelamatan isti ku.
Karena petugas tidak berhasil menemukan tempat persembunyian istri ku, maka mau tidak mau aku harus mencari dan menemukan tempat persembunyiannya. Aku bersama si bungsu berusaha mencari dari satu ruang ke ruangan yang lain, namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Lalu aku teringat, pada saat berangkat dari rumah untuk menjalani pemeriksaan, aku menyuruh istri ku untuk membawa HP agar ia bisa menghubungi aku secepatnya bila diperlukan. Kemudian aku hubungi istriku melalui handpon, dan dari seberang sana istriku menjawab, bahwa ia menunggu di sebuah tempat dan ia berada di dalam ruangan itu.
Bersama si bungsu aku pergi ke tempat yang disebutkan oleh istri ku itu, dari pintu masuk aku layangkan pandangan keseluruh ruangan yang bisa terlihat, tetapi aku tidak melihatnya. Kemudian aku langkahkan kaki ku masuk kedalam ruangan itu, aku layangkan pandangan ke sebelah kanan dari pintu masuk, astagfirullah rupanya istri ku duduk di sudut ruangan itu dan jelas dari luar tidak akan kelihatan. Ku lihat mukanya pucat pasi dan matanya berkaca-kaca, dan tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya, ia hanya menatap ku seakan minta perlindungan kepada ku sebagai suami. Melihat istri ku seperti itu tak sanggup lagi aku untuk mengajukan pertanyaan dan aku hanya mampu untuk mengajaknya pulang, “Ayo ma kita pulang” Ajak ku.
Karena tidak sanggup menahan rasa sakit, maka seminggu setelah kejadian itu, istriku kembali lagi mendatangi rumah sakit yang sedianya akan melakukan pemeriksaan indos copy untuk mengetahui penyakit yang ia derita selama ini. Istri ku bermohon kepada dokter, agar tidak melakukan pemeriksaan secara indos copy, ia meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan dengan cara lain, karena ia tidak sanggup menjalani pemeriksaan seperti itu. Nyali istri ku benar-benar ciut ketika melihat seseorang yang akan dilakukan pemeriksaan indos copy tersebut melalui kaca dari ruangan tunggu. Orang yang akan menjalani pemeriksaan tersebut dikenakan baju seperti orang yang akan menjalani operasi, dan bagi istri ku hal tersebut sangat menakutkan, itulah yang membuat ia terpaksa lari pada saat akan dilakukan pemeriksaan indos copy itu.
Dokter pun menyetujui, dan kepada istri ku diberikan sepucuk surat untuk diserahkan kepada petugas bagian radio logi di rumah sakit itu. “Baik apakah saat ini ibu sudah puasa?” Tanya petugas di bagian radiologi itu. Istri ku menjawab, “Saya tidak sedang puasa hari ini“ Jawab istriku. “Untuk pemeriksaan ini ibu terlebih dahulu harus puasa.” Kata petugas tersebut melanjutkan, “Untuk itu sebaiknya ibu datang saja kembali besok,” Kata petugas itu sambil menyodorkan resep yang harus ditebus di apotik dan obatnya dibawa pada waktu pemeriksaan nanti
Keesokan harinya sesuai dengan waktu yang janjikan, kami datang lagi ke rumah sakit itu dan langsung menuju bagian radiologi. Setelah menyerahkan surat pengantar untuk pemeriksaan, istri ku di suruh masuk ke ruangan roncent untuk difoto, dan selanjutnya diminta untuk kembali keruangan tersebut guna dilakukan penyuntikan obat yang ditebus di apotik. Lima belas menit setelah dilakukan penyuntikan istri ku diminta kembali untuk masuk keruangan roncent guna dironcent ulang, dan lima belas menit lagi setelah itu di roncent kembali dan begitu seterusnya sampai 5 kali roncent.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan di bagian radio logi itu, istri ku disuruh lagi untuk menyerahkan hasilnya kepada dokter yang memberikan rekomendasi untuk pemeriksaan oleh bagian radio logi itu. Dari hasil roncent tersebut diketahui, bahwa telah terjadi penyumbatan di ginjal sebelah kanan istri ku. Belum sempat istri ku mendudukkan pantatnya di kursi dalam ruangan dokter tersebut, dokter itu bertanya, “Kapan ibu akan dioperasi, ini harus dilakukan secepatnya,” Kata dokter tersebut sambil bertanya. Mendengar pertanyaan itu, istri ku tidak jadi duduk, nyalinya ciut dan sambil melangkah ke luar ruangan itu ia menjawab, “Saya tanyakan dulu pada suami saya,” Kata istri ku sambil berlalu.
Melihat istri ku sudah keluar dari ruangan dokter itu, lalu aku hampiri, aku lihat matanya berkaca-kaca dan ia berkata, “Saya tidak mau dioprasi, saya tidak siap diopreasi,” Katanya sambil mengajak aku pulang. Tanpa pikir panjang, “Ayolah kalau begitu” Kata ku sambil melangkah meninggalkan tempat itu.
Sejak saat itu kami tidak pernah lagi datang ke rumah sakit tersebut dan bahkan hasil roncent dan surat keterangan dari bagian radiologi tersebut tidak kami ambil lagi dan dibiarkan tinggal di rumah sakit itu sampai sekarang.
Esok harinya sepulang dari kantor aku bawa istri ku ke klinik khusus ginjal dan hipertensi di kota ini. Setelah dilakukan pemeriksaan urine di labor yang ada disana, lalu hasil labor tersebut dibawa ke sang profesor yang menangani penyakit ginjal di klinik tersebut. Tetapi setelah 4 minggu mengkonsumsi obat yang diberikan oleh sang profesor, tidak terjadi perubahan atau tidak ada reaksi terhadap penyakit yang diidap oleh istri ku itu.
Ketika kami pulang kampung saat merayakan hari raya Idhul Fitri Tahun 1428 H atau Tahun 2006 M, istri ku disarankan oleh seseorang untuk meminum air rebusan daun (maaf aku lupa namanya) 3 x sehari. Dan alhamdulillah dengan meminum ramuan itu terjadi perubahan yang cukup berarti, tetapi ketika ramuan yang dibawa dari kampung tersebut habis, kami tidak bisa lagi melanjutkannya, karena di Medan daun tersebut tidak kami temukan. Setelah tanya sana dan tanya sini tidak ada yang mengetahuinya, maka sepupu ku menyarankan untuk membawa istri ku berobat ke Stabat, disana ada seorang pensiunan dari Puskesmas melakukan pengobatan menggunakan ramuan alami dari tumbuh-tumbuhan berkhasiat. Alhamdulillah kembali kami panjatkan rasa syukur kami kepada Sang Pencipta, karena melalui ibu ini Tuhan telah memberikan perubahan terhadap penyakit yang diderita oleh istri ku itu.
Lebih dari sebulan istri ku melakukan pengobatan ke Stabat dan kami harus datang setiap minggu, karena disamping meminum ramuan yang diberikan, juga harus dilakukan pemijatan. Disini kami sangat berharap akan terjadinya kesembuhan yang permanen pada istri ku. Tetapi Tuhan berkehendak lain, sebelum bencana banjir melanda Kota Jakarta Tahun 2007, si ibu tempat istri ku berobat pergi study banding ke Jakarta bersama rekan-rekannya yang berjumlah sebanyak lima orang, karena terjebak banjir mereka terlambat kembali, sementara obat yang diberikan beliau sebelum berangkat ke Jakarta tersebut sudah habis dan kembali istri ku harus menanggung rasa sakitnya.
Akhir Januari 2007 asma staff ku di kantor kambuh luar biasa, seminggu lamanya dia tidak bisa masuk kerja. Ketika staff ku tersebut sudah mulai masuk kerja kembali, saat makan di kantin tanggal 9 Februari 2007, aku menyarankan kepadanya untuk mencoba melakukan pengobatan menggunakan obat ajaib yang pernah diceritakan oleh seorang teman ketika aku bertugas di Kota Dumai dulu. ”Kalau Tia mau, nanti kita beli berdua,” Kata ku pada staff ku itu. “Untuk lebih meyakinkan Tia, nanti ku bawakan brosurnya ke kantor,” Kata ku lagi menegaskan.
Karena penyimpanan brosur tersebut belum pasti, maka aku terpaksa bekerja keras untuk menemukannya dan baru berhasil ditemukan pada tanggal 18 Februari 2007, kemudian aku bawa ke kantor pada tanggal 19 Februari 2007. Setelah membaca brosur tersebut staff ku tersebut langsung setuju untuk membelinya, maka pada tanggal 20 Februari 2007 langsung aku belikan. Berhubung dalam satu kotak terdiri dari 7 botol kecil, maka pembagiannya dilakukan menjadi 4 : 3, empat botol sama staff ku dan 3 botol buat aku.
Karena istru istri ku selalu mengeluh menahan sakit, sementara si ibu tempat ia berobat di Stabat tersebut belum juga kembali dari Jakarta, maka aku sarankan kepada istri ku untuk mencoba obat yang kami beli berdua dengan staff ku itu. Dan ternyata 3 hari setelah mengkonsumsi obat tersebut istri ku merasakan perubahan yang laur biasa, lebih banyak perubahannya dari pada mengkonsumsi obat yang diberikan oleh ibu yang di Stabat tersebut. Akhirnya kami putuskan untuk meneruskan mengkonsumsi obat ajaib tersebut dan menghentikan pengobatan ke Stabat.
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, hanya dengan membeli satu kotak Propolis seharga Rp.550.000,- setelah menghabiskan yang 3 botol pertama tersebut istri ku bebas dari penyakitnya dan sampai saat ini penyakitnya tidak pernah kambuh lagi, pada hal ketika mengkonsumsi obat dokter penyakitnya sering kambuh. Begitu juga dengan staff ku yang sudah menderita asma selama bertahun-tahun itu, juga sembuh total dan sampai sekarang pun tidak pernah kambuh lagi. Jika sebelumnya ia sangat takut masuk ruangan ber AC serta udara dingin, sekarang berani pulang kantor mengendarai sepeda motor dalam keadaan hujan.

















