Hoyak Jambu
Dulu, dimasa remajaku, di kampung halamanku, di tanah kelahiranku. Saat yang paling menyenangkan adalah ketika musim panen tiba. Dimana semua tetangga, semua sanak famili, semua saudara, semua kerabat, semua handai taulan, ipar dan besan ikut berbondong bondong ke sawah dan masing mereka membawa alat yang disebut dengan sabit. Semua bergotong royong memotong padi dari tangkainya kemudian di tumpuk dengan rapi pada sebuat tempat (LAMPOK). Kira kira jam 11 siang aku melihat rombongan kaum ibu berjalan beriringan dipematang sawah dan masing2 mereka menjujung bakul di kapala mereka. Setelah sampai di tempat kami, mereka menurunkan beban yang mereka bawa dan kemudian mempersiapkan tempat untuk meletakkan bawaan mereka dengan rapi. Tak Lama kemudian seorang ibu yang paling tua menyapa kami, " Semua sudah beres, silakan minum dulu". Tanpa basa basi kami semua duduk melingkari hidangan yang telah disediakan. Anda tau apa hidangan nya.....?. Wow,,, "Kolak Sarabi,,, sabana sero". Hmm … saya tau Anda ngiler saat ini…hati2 yaa jangan sampai ngeces lho. Setelah selesai makan kolak sarabi kami semua melanjutkan memotong padi dan selesai kira2 jam 1 siang dimana semua padi yang telah dipotong telah di tumpuk di lampok dan ditutup dengan rapi supaya tidak basah jika suatu waktu datang hujan. Setelah melaksanakan Sholat Zhuhur kami kami melanjutkan dengan makan bersama san seterusnya kami pulang kerumah sambil berdendang dan bernyayi riang di iringi pupuik sarunai batang padi.
Tiga hari kemudian kami datang lagi kesawah dan datangnya pagi2 sekali dengan membawa tikar anyaman pandan dan tongkat bambu. Tikar anyaman di bentang dekat tumpukan padi (LAMPOK) memanjang sambung menyambung sehingga mencapai luas 4X12 meter. Salah seorang dari kami naik ke atas LAMPOK untuk membuka penutup lampok dan kemudian menurunkan tumpukan padi. Masing masing dari kami mengambil posisi berbaris dan memegang 2 tongkat bambu untuk pegangan. Satu persatu mengambil setumpuk kecil padi kemudian di gulung gulung dengan kaki dan di injak injak dengan berpegang pada dua tongkat bambu sambil bergeser sedikit demi sedikit menuju ujung tikar. Sesampai di ujung tikar semua padi sudah rontok dari tangkainya dan giliran ibu ibu untuk membersihkan padi dari jerami, Matahari mulai naik, keringat mengucur deras cacing di perutpun tak bisa di ajak kompromi lagi. Tak lama waktu berselang iring-iringan ibu-ibu dengan jujungan bakul dikepala dan tempayan yang di jepit di ketiak tiba di tempat kami. Dan Kami makan bersama2 sambal nya enak-enak dan istimewa seperti gulai paku dicampur kacang, rendang , samba lado jo uok patai, dan berbagai masakan khas lainnya. Yang paling istimewa lagi adalah tempat nasi terbuat dari anyaman pandan yang disebut dengan Kampia.
Setelah selesai makan bersama kami menyelesaikan pekerjaan merontok bua padi (ma IriaK) dan kemudian dilanjutkan dengan memisahkan buah yang bernas dengan yang hampa dengan menggunakan tempayan dan dibantu dengan terpaan angin ( Meng Angin), dan ini biasanya dilakukan oleh kaum ibu. Sedangkan yang laki-laki mulai memasukkan padi bernas ke dalam karung dan kemudian secara bergotong royong membawa pulang ke rumah pemiliknya. Bekerja di teriknya matahari sudah pasti membuat tenggorokan kering, di saat itu pulalah datang penawarnya yaitu Cendol dan Ketan, Ups,,,, Jangan ngiler donk…… . Pekerjaan demi pekerjaan kami lakukan secara bersama sama dan baru selesai menjelang Ashar. Malam harinya, selesai sholat maghrib kami berkumpul kembali di rumah pemilik sawah untuk melaksanakan makan malam bersama.
Begitulah kami lakukan secara bergantian sesama warga desa tanpa ada merasa terkurang dan terlebih terhadap jasa atau bantuan yang diberikan. Semua kami lakukan bersama tanpa pamrih. Inilah lah yang kami sebut dengan istilah HOYAK JAMBU.
Tapi sekarang, tak kulihat lagi iring iringan di pematang sawah, tak kulihat lagi canda dan tawa riang , tak kudengar lagi alunan nyanyian yang diiringi pupuik sarunai batang padi. Wahai ranahku tercinta, sudah lekangkah sifat sosialmu?,,,, sudah lekangkah semangat gotong royongmu?....Sudah lapukkah sandi sandi kebersamaanmu….?. Hingga senasib dan sepenanggungan sesama wargamu kian memudar….Entahlah…… dan….. Entahlah….
Pekanbaru, Maret 2009

















