Rabu, September 08, 2010
   
Text Size

Cari Artikel

Rahman Y
Merry Musfar
St.Rajo Ameh
Adi Linggo
Yayat Suryat
Afrinaldi, ST
rafki
Sri Mulyati
Hendri
Aulia Rahman
Darmanto
Reno
syahbandi
Rahmat Ilahi Tridian Putra

Artikel Budaya

Optimalisasi Potensi Dalam Pemberdayaan Masyarakat dengan Pendekatan Agama dan Adat Istiadat

ImageMinangkabau, terkenal dengan industri otaknya pada masa perjuangan kemerdekaan, sehingga banyak tokoh-tokoh yang berasal dari urang awak menjadi pemimpin Indonesia dan dunia. Dengan kemampuan intelektualitasnya,mereka berpikir untuk kemajuan bangsanya pada umumnya dan khususnya Minangkabau. Apakah dalam bidang politik, ekonomi, agama, hukum dan lainnya mereka merambah segala lini kehidupan masyarakat pada waktu itu.

Sebab, dalam pemikirannya bersumber dari alam, sebagaimana pepatah Minang mengatakan alam takambang manjadi guru. Alam yang indah, yang mempesona dan begitu anggun jelita ketika kita berada di ranah Minang. Kita bisa mengamati alamnya bak jamrud khatulistiwa yang mempersona dengan keindahan alam yang menakjutkan. Secara langsung anugerah Allah SWT yang tiada tandingannya sama sekali. Sehingga dengan alam itulah seorang pemikir dapat mengaktualisasikan ilmunya dengan menggali potensi dirinya yang harus dikembangkan untuk kemajuan bangsanya.


Namun, dahulu dan sekarang sudah jauh berbeda? Kenapa demikian? Minangkabau saat ini, sudah atau bahkan jarang menampilkan tokoh-tokoh sekaliber Bung Hatta, Syahrir, Agus Salim, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Yamin dan lainnya. Mereka lebih senang kepada nostalgia yang pada hakikatnya membawa kini kepada ketiduran yang tidak bisa bangun atau bangkit kembali untuk menata masa depan yang lebih baik. Sifat yang malas yang ada pada diri seseorang membawa semuanya tidak mau bekerja dalam memenuhi kehidupan yang begitu susah dan payahnya mencapai kehidupan yang kita miliki. Untuk itu bagaimana orang awak bangkit dalam upaya untuk memberantas kemiskinan, kebodohan dan segala sifat-sifat yang membawa seseorang tidak mau berkembang sama sekali.


Agama dan adat istiadat mengajarkan seseorang untuk maju?


Mayoritas urang Minang menganut ajaran Islam, secara langsung Islam mengajarkan kita untuk berusaha/bekerja untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Sebab, Islam sebagai agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW telah meninggal pusaka supaya kita selamat di dunia dan diakhirat yaitu al-Qur’an dan Hadits. Banyak ayat-ayat yang menyuruh hambanya untuk bekerja dan memohon kepada khaliqnya agar bisa berhasil dan sukses pada nantinya.

Salah satunya dalam surat al-Jumuah: 10, Allah SWT berfirman: ”Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”.


Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada hambanya, setelah kita sholat maka kita mencari rezekinya, apakah dengan berdagang, bertani, nelayan, buruh, pegawai, penulis dan lainnya. Yang pada dasarnya, bagaimana kita harus dituntut untuk mencari rezekinya dengan jalan yang halal, sehingga dengan bekerja tersebut maka kita secara langsung dapat meningkatkan ekonomi keluarga dalam upaya mensejahterakan masyarakat.

Sebab, kita dituntut jangan bermalas-malasan yang akibatnya akan menyengsarakan seseorang dalam upaya untuk bersaing dengan yang lainnya. Dalam hal ini, kita dituntut untuk bekerja dan bekerja. Hadits nabi mengatakan, man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Jadi, seseorang yang sudah berusaha semaksimal mungkin lalu memasrahkan dirinya kepada Allah SWT apa yang dilakukan selama ini dan pada akhirnya diserahkan langsung kepadanya agar tercapai tujuan dan keinginan yang diperlukannya. Disini, kita sangat dituntut untuk selalu berdoa kepadanya atas apa yang kita inginkan lalu kita berusaha dengan jalan yang halal agar nantinya apa yang menjadi harapan hidup dapat terpenuhi dengan sebaik mungkin. Seseorang yang hanya berdiam diri saja dirumah, atau seorang pemuda yang menghabiskan waktunya banyak maota di lapau maka kapan akan berhasil dan menjadi orang. Sebab, mereka sendiri hidupnya malas-malasan yang akibatnya membawa kemiskinan yang semakin merajarela disaat sekarang ini.


Untuk itu, bagaimana upaya yang dilakukan agar meningkatkan segala harapan yang terjadi agar mencapai suatu cita-cita dengan banyak bekerja untuk memperoleh masa depan yang lebih baik. Banyaknya lahan yang terlantar yang ada disekeliling kita khususnya di pedesaan, kita olah dengan lebih produktif untuk meningkatkan ekonomi. Apakah dengan bertani, berladang, beternak, membuat kolam ikan dan lainnya yang pada dasarnya dapat meningkatkan ekonomi masyarakat yang ada disekitar kita. Secara langsung dengan keyakinan yang kita peluk sebagai orang muslim tentu berupaya untuk mengamalkan ayat-ayat al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, karena sifat manusia yang malas, tidak mau bekerja bagaimana mereka akan berhasil dan meningkatkan taraf kehidupannya, sedangkan mereka sendiri tidak mau berkerja?


Begitu pula dalam adat istiadat Minangkabau, sangat relevan dengan kondisi yang ada. Dalam adat Minang, harta pusaka jatuh kepada perempuan sebab pada dasarnya ada pusaka tinggi dan ada pula pusaka rendah. Pusaka tinggi merupakan pusaka yang terjalin turun temurun, yang hasilnya dipergunakan untuk anak kemenakan khususnya perempuan. Sedangkan mamak tidak berhak menjual harta pusaka tinggi tersebut. Pada dasarnya pusaka tinggi itu untuk kemakmuran kaumnya mengelola dengan baik.


Sedangkan pusaka rendah, merupakan harta kekayaan yang di dapat dari keluarga itu sendiri, tidak ada kaitannya dengan turun temurun. Pusaka rendah diperoleh dengan semangat dan kerja keras yang dilakukan oleh keluarga apakah oleh ayah atau ibu atau bisa saja dengan anaknya sendiri dalam upaya mensejahterakan keluarganya.

Dengan demikian, orang Minang sangat dituntut untuk bekerja dengan sungguh-sungguh agar dapat memperoleh kekayaan yang dimilikinya. Kadang kala dengan tidak adanya pekerjaan yang layak di kampung halamannya, urang Minang pergi merantau untuk merubah nasibnya agar dapat berubah nantinya. Dalam pepatah Minang mengatakan, krakatau madang dihulu, babuah babungo alun. Marantau bujang dahulu, bagi mamak baguno alun.


Disini, anak muda Minang dituntut untuk hijrah/merantau karena dikampung halamannya tidak membawa apa-apa sama sekali. Sebelum mereka merantau tentu, dibekali berbagai keterampilan atau keahlian agar dapat bersaing dengan yang lainnya ketika berada dirantau urang. Namun lebih utama sekali, bagaimana seorang bujang dibekali dengan ilmu agama yang mantap, sebab nantinya ketika dirantau banyak sekali cobaan atau godaannya yang dihadapi ketika dirantau orang. Budaya merantau memberikan peran yang sangat signifikan agar nantinya setelah mereka menguasai ilmu dirantau orang atau menjadi urang sukses maka nantinya tentu akan ingat kembali ke kampung halamannya untuk membangun kampungnya. Dalam hal ini ada ungkapan mengatakan, sejauh-jauhnya burung terbang, pasti akan hinggap kesangkarnya. Sejauh-jauhnya urang Minang merantau di negeri orang, pasti akan ingat ke kampung halamannya.


Jadi, kalau kita amati seseorang yang mempunyai kemampuan yang dimilikinya, secara langsung pula bagaimana berupaya meningkatkan dirinya yang sesui dengan tuntutan kehidupan yang dimilikinya. Tuntutan hidup dengan kebutuhan yang semakin meningkat, secara langsung dapat menggugah seseorang untuk dapat berkembang dalam upaya meningkatkan jadi dirinya kejalan yang lebih baik. Seorang yang hanya memikirkan akan dirinya maka tentu mereka hanya selalu memikirkan akan dirinya tanpa lagi memikirkan masyarakat disekitarnya.

Sebab, di alam Minangkabau ini ada namanya saling baiyo-iyo, sesuatu masalah yang ada kita laksanakan dengan musyawarah dan mufakat untuk mencapai keputusan yang lebih baik. Orang Minang adat istiadatnya yang sangat kuat, dengan adanya bersuku-suku, bernagari, berkorong yang saling terkaitan antara satu dengan yang lainnya. Dalam pepatah Minang mengatakan, kemenakan barajo ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu barajo ka nan bana/musyawarah mufakat.

Anak di pangku kamanakan dibimbing, yang merupakan tugas mamak dalam membina kaumnya ke arah yang lebih baik. Artinya mamak mempunyai fungsi yang sangat sentral sekali dalam upaya mengatur, mengelola sumber kehidupan yang menjadi lahan untuk mengembangkan dirinya. Dengan demikian upaya yang dilakukan dapat membawa perubahan ke jalan yang lebih baik.


Potensi alam yang begitu baiknya, dapat kita kelola dengan berbagai tanaman yang akan ditanam, sehingga hasilnya akan dinikmati untuk keluarga itu sendiri. Harta pusaka tinggi yang luas bangaimana diupayakan untuk mensejahterakan masyarakatnya agar dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tentu, semangat atau etos kerja yang sangat diperlukan agar lebih ditingkatkan upaya kehidupannya.

Upaya kehidupan yang lebih baik itu, siapa lagi yang akan merubahnya kalau bukan kita sendiri yang akan merubahnya. Untuk itu semangat dan etos kerja yang baik itulah yang membawa seseorang yang akan sukses. Sebab, di kampung halaman urang yang dihargai adalah orang yang berilmu dan orang yang mempunyai kekayaan yang berlimpah. Dengan ilmu yang diperolehnya maka dapat disampaikan kepada orang lain agar dapat merubah dirinya dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak pandai menjadi pandai. Orang yang mempunyai kekayaan, bagaimana membangun kampung halamannya untuk merubah nasib saudaranya untuk berusaha dengan baik, ketika modal yang ada dipergunakan dengan sebaik mungkin agar dapat diolah dengan usaha yang mereka miliki. Secara langsung, modal yang diberikan oleh saudara yang kaya dapat membantu saudara yang miskin agar si miskin dapat bangkit kembali dari ekonomi yang pas-pasan.Ini suatu kebanggaan sekali bagi kaumnya apabila kaumnya khususnya anak kemenakan sukses dikemudian harinya. Wallahu a’lam bisshowwab.

 

*Penulis adalah peminat sosial keagamaan, tinggal di Pariaman
Guru MTSN Padusunan Pariaman

 

Sumber : http://padang-today.com

Profil Saya

Login Form