Taufiq Ismail Bergelar Adat, Datuak Panji Alam Khalifatullah
Sastrawan nasional Taufiq Ismail mendapatkan anugerah gelar adat yang kedua di Ranah Minang. Kali ini, gelar adat itu diberikan Bapak dan Mamak Pangulu Nan Sapuluah Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto Tanahdatar. Bertempat di Rumah Gadang Koto Sungai Guruah, Taufiq dilewakan dengan gelar adat Datuak Panji Alam Khalifatullah. Sebelumnya, putra Abdul Gaffar Ismail (alm) dan Tinur Muhammad Nur (almh) ini mendapatkan anugerah gelar adat Tuanku Pujangga Diraja bersama delapan tokoh nasional di Rumah Gadang Pagaruyung Istano Si Linduang Bulan, Tanahdatar.
Sastrawan nasional Taufiq Ismail mendapatkan anugerah gelar adat yang kedua di Ranah Minang. Kali ini, gelar adat itu diberikan Bapak dan Mamak Pangulu Nan Sapuluah Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto Tanahdatar. Bertempat di Rumah Gadang Koto Sungai Guruah, Taufiq dilewakan dengan gelar adat Datuak Panji Alam Khalifatullah. Sebelumnya, putra Abdul Gaffar Ismail (alm) dan Tinur Muhammad Nur (almh) ini mendapatkan anugerah gelar adat Tuanku Pujangga Diraja bersama delapan tokoh nasional di Rumah Gadang Pagaruyung Istano Si Linduang Bulan, Tanahdatar.
”Tak ada orang yang tidak tahu dengan Taufiq Ismail. Seorang pujangga nasional, beliau telah mengharumkan nama bangsa di pentas nasional, bahkan internasional. Warga Nagari Pandai Sikek bangga memiliki putra daerah seperti Taufiq Ismail,” ujar perwakilan Mamak Pangulu Nan Sapuluah, Nagari Pandai Sikek, Datuak Pangulu Basa.
Sebelumnya, dalam prosesi pencarian nama gelar adat, Bapak dan Mamak Pangulu Nan Sapuluah, Nagari Pandai Sikek sepakat memberikan empat nama gelar adat kepada Taufiq Ismail; Datuak Panji Alam Khalifatullah, Datuak Maliputi Alam, Datuak Pangulu Nan Sati, dan Datuak Tuanku Alam Basa. Bapak dan Mamak Pangulu Nan Sapuluah memberikan kebebasan kepada Taufiq untuk memilih salah satu dari empat gelar adat tersebut.
”Maksud kita beri kebebasan, karena Taufiq sangat diharapkan sekali keberadaannya oleh anak kemenakannya di Pandai Sikek untuk berbakti di kampung halaman. Karena selama ini beliau banyak berkiprah di rantau,” terang Datuak Pangulu Basa.
Taufiq Ismail mengaku terharu dengan tawaran empat gelar adat tersebut. ”Semuanya bagus-bagus. Namun saya harus memilih. Saya menjatuhkan pilihan kepada gelar adat yang pertama, Datuak Panji Alam Khalifatullah,” ungkap Taufiq dengan mata berkaca-kaca.
Nan membuat Taufiq tertarik pada gelar adat itu, Khalifatullah di sini bermaksud wakil atau petugas Allah. Saya ingin mengabdikan sisa umur saya untuk menjadi wakil atau petugas Allah di muka bumi ini untuk menebar ilmu dan kebaikan,” tutur Taufiq. Mendengar pernyataan tulus Taufiq, Bapak dan Mamak Pangulu Nan Sapuluah, pun setuju. Turut hadir istri, anak dan menantu Taufiq Ismail. Masing-masing Ati Ismail, Abraham Ismail dan Lusi. Adik Taufiq Ismail, Ida Ismail dan kemenakan Taufiq Ismail, Fadli Zon.
Selain itu, hadir Wali Nagari Pandai Sikek, Edrizal Datuak Rajo Nan Sampono, Ketua Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN) Pandai Sikek, Datuak Parmato Dirajo serta sejumlah ninik mamak dan tokoh masyarakat setempat. Wali Nagari Pandai Sikek, Edrizal Datuak Rajo Nan Sampono didampingi Ketua BPRN Pandai Sikek, Datuak Parmato Dirajo usai acara mengatakan, Pemerintahan Nagari Pandai Sikek bangga memiliki putra daerah seperti Taufiq Ismail.
”Seperti yang kita ketahui, nama beliau tak hanya terkenal di Pandai Sikek. Tapi juga di Indonesia dan dunia internasional. Kami juga sangat bangga dengan beliau. Di sisa umurnya yang kini telah 74 tahun, beliau mau menetap dan membaktikan diri untuk kampung halamannya.
Salah satu bukti, beliau mendirikan rumah puisi di Aie Angek, Kecamatan X Koto pada 2008 lalu,” ujar Wali Nagari Pandai Sikek, Edrizal Datuak Rajo Nan Sampono. Sekadar diketahui, ibundanya Tinur Muhammad Nur (almh) berasal dari Pandai Sikek. Sementara, ayahanda bernama Abdul Gaffar Ismail berasal dari Jambu Aia, Bukittinggi.
Singkat cerita, tahun 1932, ayah Taufiq dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Pekalongan. Abdul Gaffar Ismail, satu dari empat aktivis Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) yang dibuang pemerintah Kolonial Belanda saat itu.
Di Pekalongan, ayahanda dan ibunda Taufiq menyebarkan ilmu tafsir Quran. Taufiq Ismail sendiri lahir di Pekalongan, tahun 1934.
Masa kecil Taufiq banyak dihabiskan di Pulau Jawa, begitupun sekolah. Hingga akhirnya, Taufiq berhasil menjadi penyair terkenal dan tak terhitung kali mewakili Indonesia lomba baca puisi di seluruh negara dunia. Gelar Doctor Honoris Causa (DR HC) pun dianugerahkan Universitas Yogyakarta (2003) dan Universitas Indonesia (2009) kepada Taufiq Ismail. [*]

















